Sunday, June 19, 2011

Saya dan Korban Dampak Krisis Ekonomi


Untuk memenuhi tugas 2 sejarah yaitu mewawancarai orang yang ikut menjadi saksi sebuah sejarah Indonesia saya mewawancarai ibu kandung saya. Ibu saya bernama Safrina Satar. Beliau lahir disebuah kota kecil bernama Kijang, Tanjung Pinang yang terletak di kepulauan Riau pada tanggal 9 bulan pertama tahun 1960. Seperti halnya yang dilakukan banyak keluarga dulu Ibu saya memilki keluarga yang sangat besar. Ia adalah anak bungsu dan memiliki 9 orang kakak yang jarak usianya terlampau jauh. Ririn, begitu beliau dipanggil oleh teman-temanya.  Ayahnya adalah orang penting di kota kecil itu. Ayahnya bernama Satar adalah orang yang mengusahakan pendidikan bagi masyarakat Kijang dengan mendirikan sekolah menengah pertama. Akan tetapi, pada usia Ibu saya yang ke-4 ayahnya pergi menghadap yang Maha Kuasa. Pada hari itu sekolah di Kijang diliburkan dan rumah-rumah memasang bendera setengah tiang tanda berduka. Semenjak saat itu, Ibunda dari Ibu saya, Majidah, membuka usaha catering makanan.
Di Kijang ibu saya menghabiskan masa kecilnya. Karena usia yang masih kecil dan sudah ditinggal ayahnya beliau juga turut dijaga oleh kakak-kakaknya yang juga sudah berkeluarga. Ia bersekolah di SD Negeri 4 Kijang selama 6 tahun. Selama ia bersekolah ia mendapatkan prestasi rangking 1 dikelasnya. Beliau tinggal dirumah kakaknya yang ketiga ketika dibangku SMP Negeri Kijang yang didirikan oleh ayahnya sendiri. Ketika sedang belajar di SMA Negeri 1 Tanjung Pinang selama 2 tahun. Ketika duduk dikelas 3 SMA, suami dari kakaknya yang ketiga dipindah tugaskan di Jakarta. Karena ia tidak mau bersekolah di Jakarta, pada waktu itu alasan kenapa ia tidak mau bersekolah di Jakarta karena ia tidak mau berangkat sekolah menggunakan bus, ia lebih memilih untuk bersekolah di Jogjakarta. Akan tetapi ibunda beliau tidak mengizinkan untuk menetap di kost-an. Jadi ia memilih untuk tinggal di Cilacap bersama kakaknya yang keempat. Disana ia bersekolah di SMA Negeri 1 Cilacap. Dulu, sistem pendidikan di Indonesia adalah satu tahun bersekolah dihitung dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember. Tetapi, secara tiba-tiba pemerintah mengganti kebijakannya. Sekolah selama setahun dihitung dari bulan Juni hingga bulan Juli. Alhasil, beliau merasakan sekolah selama satu setengah tahun karena kebijakan pemerintah yang secara tiba-tiba berubah. Beliau lulus dari SMA Negeri 1 Cilacap pada tahun 1979.
Setelah menamatkan pendidikan jenjang SMA beliau memutuskan untuk pindah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah di Akademi Akuntan Jayabaya. Selama berpendidikan disana beliau sudah mulai bekerja di kantor akuntan Ishak Nukman sebagai junior auditor yaitu orang yang memeriksa laporan keuangan perusahaan, selama 2 tahun. Beliau menyelesaikan akademinya selama 3 tahun. Setelah itu beliau pindah kerja ke Labor Supply untuk pengadaan tenaga kerja perusahaan pengeboran minyak milik Jepang sebagai tenaga akuntan. Setelah bekerja di perusahaan Jepang selama 2 tahun beliau pindah bekerja di perusahaan kontraktor bernama PT Pilar Utama Nusantara.
Jatuh bangun sangat dirasakan ketika beliau bekerja di PT Pilar Utama Nusantara. Disini lah beliau merasakan betul dampak dari krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada tahun 1998 dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Beliau masuk ke di PT Pilar Utama pada tahun 1985. Pertama kali masuk ke perusahaan kontraktor ini beliau bekerja sebagai tenaga akuntan. Tenaga akuntan bekerja yaitu membuat laporan keuangan, menyiapkan untuk gaji-gaji karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Setelah bekerja selama 5 tahun, tepatnya tahun 1990 beliau tidak lagi menjadi tenaga akuntan, hasil dari jerih payahnya dan kegigihannya beliau diangkat menjadi direktur keuangan di perusahaan yang berada di kawasan Jalan Raya fatmawati, Cilandak. Setelah 8 tahun menjabat sebagai direktur keuangan, ditahun 1998 terjadi krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Dampak krisis ekonomi tersebut turut dirasakan oleh PT Pilar Utama Nusantara. Proyek-proyek yang selama ini dijalankan dengan lancar dan sukses banyak yang tidak berhasil. Perusahan lain yang menggunakan jasa kontraktor banyak yang tidak membayar jasa tersebut. Akibatnya keuangan di PT Pilar Utama Indonesia terhambat pemasukannya. Tidak ada lagi uang untuk membayar gaji karyawan perusahaan. Akhirnya kebijakan yang diambil oleh pimpinan PT Pilar Utama Nusantara adalah memberhentikan karyawan yang sekiranya tidak terlalu diperlukan. Tetapi tidaklangsung semua pegawai yang di PHK. Awalnya hanya satu sampai tiga orang yang diberhentikan bekerja. Seperti misalnya cleaning service ataupun supir kantor. Perusahaan kontraktor tersebut pun masih bertahan. Akan tetapi, krisis yang melanda pun bertambah parah. Pemberhentian kerja pun dilaksanakan kembali. Kali ini yang terkena imbas adalah orang-orang bagian tertentu. Misalnya, pada bagian tertentu berjumlah 5 orang. Maka beberapa orang dari 5 orang tersebut lah yang diberhentikan. Krisis teus saja berlanjut dan semakin parah. PT Pilar Utama Nusantara pun lama-lama tidak lagi bisa bertahan. PHK kembali diberlakukan. Karena keadaan yang semakin bertambah buruk setiap harinya, beliau memutuskan untuk berhenti saja dari PT Pilar Utama Nusantara. Akhirnya, beliau melepaskan jabatan yang sudah susah payah beliau perjuangkan karena krisis ekonomi yang berdampak semakin buruk.
Beliau menikah dengan Slamet Purwo Santoso pada tahun 1987 tepatnya pada tanggal 7 bulan Juni. Sebelumnya mereka bertemu ketika bekerja di kantor akuntan Ishak Nukman. Beliau melahirkan anak pertamanya pada tahun 1988 pada bulan Desember tanggal 19. Anak pertamanya diberi nama Satria Metsa. Setelah itu beliau diberi lagi rezeki oleh Allah dengan diberinya putri yang lahir pada bulan November tanggal 14 pada tahun 1992 yang kemudian beliau beri nama Dania Metsa. Selang 22 bulan beliau dikaruniai kembali seorang putri yang ahir pada tahun 1994 hari pertama bulan September bernama Fatria Metsa.
Setelah memutuskan untuk keluar dari PT Pilar Utama Nusantara beliau memutuskan untuk menetap dirumah dan menjadi ibu rumah tangga. Setelah itu, beliau merasa harus mengisi waktu jad beliau memutuskan untuk kemali melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA jurusan sastra Inggris program S1. Beliau lulus dari STBA LIA pada tahun 2003.
Sekarang beliau menjadi ibu rumah tangga saja. Saran beliau untuk Indonesia adalah untuk memberantas korupsi dan semoga kejadian krisis ekonomi tidak lagu terulang karena dampaknya sangat merugikan orang lain. Seperti halnya yang beliau rasakan, sudah mendapatkan jabatan yang tinggi di kantornya akan tetapi karena krisis ekonomi beliau harus melepaskan apa yang sudah beliau dapatkan.

Monday, June 13, 2011

Saya dan Koleksi Museum, Dewa Perusak

Minggu, 22 Mei 2011 kemarin saya bersama teman saya, Fatria, berkunjung ke museum nasional atau orang-orang biasa menyebutnya museum gajah karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada 1871. Kadang museum ini disebut juga "Gedung Arca" karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode sejarah. Museum Nasional terletak di Jakarta Pusat, persisnya  di Jalan Medan Merdeka Barat no. 12. Tujuan kami ke Museum Nasional untuk menyelesaikan tugas sejarah. Saya sengaja memilih Museum Nasional karena menurut saya koleksinya sangat banyak dan beragam sehingga saya dapat memilih salah satu objek yang saya senangi untuk dibahas di sini. Ini sudah yang ketiga kalinya saya mengunjungi Museum Nasional.
Kami tiba di Museum Nasional  pukul 12.00. Disana kami dibantu oleh seorang  pemandu yang akan menjelaskan kepada kami tentang benda-benda yang ada di Museum Nasional. Museum Nasional hingga kini memiliki koleksi benda-benda bersejarah mencapai  ratusan ribu, terdiri atas tujuh jenis koleksi, yaitu prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik-heraldik, sejarah, etnografi dan geografi.   Pertama kami memasuki ruang pameran arca. Ruangan ini tepat berada di depan setelah pintu masuk museum. Di dalamnya terdapat patung-patung dan arca-arca perwujudan dari dewa-dewa Hindu-Budha. Pemandu kami menjelaskan beberapa patung yang terkenal yang menjadi koleksi di Museum Nasional. Di bagian tengah terdapat patung-patung yang dibagi berdasarkan tempat ditemukan patung tersebut. Disayap kiri museum terdapat patung-patung yang berasal dari Jawa Tengah dan sayap kanan ditempatkan patung-patung dari Jawa Timur. Perbedaan patung berdasarkan asalnya bisa dilihat dari bentuk ukiran patungnya. Patung dari Jawa Timur lebih detail dibanding yang dari Jawa Tengah. Setelah itu kami dipandu memasuki ruang pameran pra-sejarah yang berada di bagian belakang museum. Kami dijelaskan kehidupan manusia pada zaman pra-sejarah. Susahnya mencari tempat tinggal, mendapakan makanan, dsb. Selanjutnya kami kembali ke bagian depan museum memasuki ruangan zaman penjajahan. Disana terdapat benda-benda seperti berbagai macam meriam yang digunakan pada saat Indonesia dijajah oleh Belanda, prasasti portugis, furniture kayu zaman dahulu yang lebih kuat daripada sekarang, dll. Selesai melihat-lihat kami menuju ke ruangan yang terakhir saya kunjungi yaitu ruang khazanah emas. Di ruangan ini terdapat koleksi benda-benda bersejarah yang terbuat dari emas peninggalan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Indonesia. Ruang khazanah emas dibagi menjadi dua ruangan, yaitu ruang arkeolohgi dan ruang etnografi. Di ruangan ini kami melihat lebih dari 200 buah benda-benda bersejarah yang terbuat dari emas dan perak. Di bagian etnografi kami melihat benda-benda yang terbuat dari emas 14-24 karat dan banyak dihiasi oleh batu permata. Benda-benda di ruangan ini banyak yang ditemukan secara tidak sengaja, bukan lewat penggalian arkeolog. Sambil melihat-lihat kami diceritakan dari mulai asal-usul bendanya satu per satu sampai cerita ketika koleksi benda-bendanya yang dulu sempat dicuri oleh seseorang yang bernama Kusni Kadut. Kami sangat mengagumi koleksi benda-benda yang terdapat di ruangan ini.
Kesan saya terhadap Museum Nasional sangat bagus. Saya sangat tertarik dengan koleksi-koleksi yang ada di Museum Nasional ini. Bagian yang paling saya suka dari museum ini adalah ruang emas. Perhiasan yang terbuat dari emas sangat saya kagumi. Koleksinya sangat bagus untuk diperlihatkan kepada pengunjung. Semua ruangan yang saya kunjungi kali ini sebenarnya sudah pernah saya kunjungi sebelumnya, kecuali ruangan zaman penjajahan. Dulunya saya tidak begitu tertarik untuk ingin tahu apa yang ada di dalam Museum Nasional ini dan sejarah ceritanya karena kunjungan saya yang sebelumnya tidak diceritakan sedetail kunjungan saya kali ini. Saya pikir sejarah ceritanya biasa-biasa saja bahkan membosankan, ternyata sangat menarik. Menuntaskan tugas sejarah memaksa saya untuk berkunjung ke sebuah museum. Dan dari hasil yang saya dapatkan dari kunjungan ke museum tidak seburuk yang dibayangkan. Saya begitu mencermati cerita-cerita yang menarik yang dijelaskan oleh pemandu museum. Rasa ingin tahu saya pun bertambah setiap pemandu bercerita tentang apa saja. Saya juga lebih mengerti dengan lebih jelas tentang sejarah Indonesia. Ternyata tidak membosankan sama sekali  untuk mengetahui sejarah Indonesia dari zaman pra-sejarah sampai zaman penjajahan. Yang saya sukai lagi adalah pengunjungnya. Ternyata masih banyak orang tua yang mengajak anak mereka untuk berlibur di museum, yang memanfaatkan waktu tidak hanya bermain di mall tapi ke museum agar lebih bermanfaat. Tidak hanya pengunjung lokal, di hari ketika saya berkunjung terdapat banyak turis yang berkunjung untuk melihat koleksi peninggalan yang ada di Indonesia. Suasana di Museum Nasional pada saat itu bisa dibilang ramai, tidak seperti yang ada pada bayangan saya yang biasanya museumnya sepi. Secara keseluruhan saya memberi tanggapan positif terhadap Museum Nasional. Namun, hal yang saya sangat sayangkan siang itu terjadi pemadaman listrik di beberapa ruangan. Menurut saya seharusnya hal tersebut jangan sampai terjadi. Hari Minggu merupakan hari libur, terlebih hari tersebut menjadi libur panjang karena pemerintah meliburkan 2 hari ke depan. Di hari libur malah seharusnya menjadi hari dimana pengunjung lebih banyak dari hari sebelumnya. Seharusnya museum ada persiapan kalau terjadi pemadaman seperti ini. Pemadaman lampu mengganggu kenyamanan pengunjung. Karena terbatasnya ruangan yang memiliki pencahayaan para pengunjung hanya fokus ke beberapa ruangan saja. Contohnya ruang emas. Ruangan tersebut memiliki lampu yang tetap menyala. Alhasil para pengunjuk menumpuk di ruangan tersebut dan sebagian orang merasa tidak nyaman dan leluasa untuk melihat-lihat koleksinya karena terlalu ramai.
Dari sekian banyak koleksi benda-benda di Museum Nasional yang saya lihat, saya memilih membahas patung Dewa Siwa untuk memenuhi tugas sejarah kali ini.
Siwa berasal dari bahasa Sansekerta Siva yang berarti menguntungkan. Siwa adalah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa adalah dewa pelebur dan perusak atau pemusnah, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya.Siwa merupakan ayah dari Ganesha (Dewa Pengetahuan, Pelindung, Penolak Bala Bencana, dan Dewa Kebijaksanaan) dan Murugan atau kadang orang menyebutnya Kumara/Kartikeya/Skanda (Dewa Perang dan Pelindung). Siwa mempunyai istri bernama Parwati (Dewi Kekuatan). Siwa digambarkan sebagai pria tampan yang tampak seperti seorang pemuda yang kekal karena kekuasaannya atas kematian, kelahiran kembali dan keabadian.
Umat Hindu, khususnya umat Hindu di India, meyakini bahwa Dewa Siwa memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan karakternya, diantaranya: bertangan empat, masing-masing membawa trisula, cemara, tasbih atau genitri, dan kendi, bermata tiga (tri netra), pada hiasan kepalanya terdapat ardha Chandra (bulan sabit), ikat pinggangnya berasal dari kulit harimau, hiasan di lehernya dari ular kobra dan menduduki tanah kremasi. Dewa Siwa mempunyai rambut yang kusut berwarna seperti emas yang dicairkan. Trisula yang ia bawa melambangkan kekuatan untuk menghancurkan kejahatan dan kebodohan. Lima ular kobra yang dipakai Dewa Siwa sebagai hiasan di lehernya menggambarkan dirinya memiliki kekuatan yang abadi. Tanah kremasi yang ia duduki menandakan bahwa ia adalah pengendali kematian di dunia sehingga ia dipuja sebagai pengendali utama kelahiran dan kematian di dunia. Gunung Kailasa di Himalaya adalah tempat tinggal Dewa Siwa. Gunung Kailasa digambarkan menyerupai Lingga, mewakili pusat alam semesta. Tunggangan Dewa Siwa adalah lembu Nandini, seekor lembu putih betina yang mempunyai sifat tak kenal takut. Lembu ini melambangkan sebagai lembu kekayaan. Nama lain Nandini yang dikenal di Indonesia adalah Andini dan Handini. Patung lembu Nandini ini terdapat di Candi Prambanan.
Ketiga mata dewa siwa digambarkan di antaranya sebagai matahari, bulan dan api. Matahari di mata sebelah kanan, bulan di sebelah kiri dan api di tengah. Kedua mata di kanan dan kirinya menunjukkan aktivitas di bumi. Mata ketiga yang terdapat di tengah dahi menyimbolkan pengetahuan spiritual dan kekuasaan. Seperti api, tatapan mata ketiga Dewa Siwa ini sangat tajam, terlebih lagi ketika ia sedang marah.
Oleh umat Hindu Bali, Dewa Siwa dipuja di Pura Dalem, sebagai dewa yang mengembalikan manusia ke unsurnya. Dalam tradisi Indonesia lainnya, kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Batara Guru (dewa yang merajai kahyangan).
Di Indonesia lebih banyak ditemukan patung Dewa Siwa beserta anak dan istrinya karena di Indonesia sering terjadi bencana, seperti gunung meletus, gempa bumi, dsb. Maka dari itu banyak dibuat patung Dewa Siwa sehingga banyak pula yang akhirnya memuja Dewa Siwa karena ia adalah Tuhan yang membuat kehancuran sekaligus sebagai tempat berlindung. 

Saya dan Koleksi Museum,Topeng Bali




Topeng berarti penutup muka yang terbuat dari kayu, kertas, kain atau bahan lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda. Dari yang berbentuk wajah dewa-dewi, manusia, binatang, setan dan lain-lainnya. Di Bali topeng juga adalah suatu bentuk dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad.
Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan, para penari memakai topeng penuh (yang menutup seluruh muka penari), topeng setengah (yang menutup hanya sebagian muka dari dahi hingga rahang atas termasuk yang hanya menutup bagian dahi dan hidung). Semua tokoh yang mengenakan topeng penuh tidak perlu berdialog langsung, sedangkan semua tokoh yang memakai topeng setengah memakai dialog berbahasa kawi dan Bali .
Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua), Panasar (Kelihan – yang lebih tua, dan Cenikan yang lebih kecil), Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). Drama tari topeng yang ada di Bali, yang terus berjalan dan berkembang, berubah sejalan dengan perubahan nilai nilai artistik, sosial, dan kultural dari masyarakat Bali .
Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat pendukungnya telah membuat drama tari topeng ini hingga kini mendapat tempat yang cukup istimewa di hati masyarakat, khususnya Hindu yang ada di Bali maupun orang Bali yang ada di luar Bali .
Sebelumnya perlu kiranya diketahui, seni pertunjukan mempergunakan topeng di Bali sudah berkembang sejak zaman pemerintahan raja Jaya Pangus sekitar abad X. Dalam kumpulan prasasti Jaya Pangus ini sudah ditemui beberapa istilah-istilah seperti: atapukan yang artinya pertunjukan yang mempergunakan alat-alat penutup muka (topeng).
Selain itu, di Bali ditemukan beberapa buah prasasti yang memuat tentang kesenian topeng, salah satunya adalah prasasti Bebetin (tahun 896 Masehi), yang menyebutkan pertunjukan topeng sebagai atapukan. Di samping itu keberadaan topeng juga disebutkan dalam prasasti Blantih sekiktar tahun 1059 masehi.
Selain itu, ada juga prasasti tentang petopengan yaitu prasasti Ularan Plasraya. Dalam prasasti itu diceritakan tentang Pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel antara tahun 1460-1550. pada masa itu Dalem Waturenggong berniat  menaklukan Kerajaan Blambangan. Dikirimlah pasukan tentara di bawah pimpinan Ki Patih Ularan dan ditemani I Gusti Jelantik Pesimpangan. Dalam pertempuran tersebut Sri Dalem Juru, Raja Blambangan, kepalanya dapat dipenggal dan Blambangan dapat ditaklukan. Sebagai bukti telah menaklukan Blambangan dirampaslah beberapa barang, di antaranya dua buah gong, satu keropang Wayang Gambuh dan satu peti topeng.
Pada masa pemerintahan Wirya Sirikan, sekitar tahun 1879 oleh I Gusti Jelantik, topeng yang jumlahnya 21 buah itu dipindahkan   ke Blahbatuh, kini topeng-topeng itu disimpan di Pura Penataran Topeng yang berada di Blahbatuh, Gianyar. Dari 21 buah topeng tersebut, enam di antaranya yang memakai canggem sebagai alat memegang, topeng itulah yang diperkirakan berasal dari Jawa, karena sebagin besar topeng Jawa menggunakan canggem.
Di Bali selain topeng yang di Blahbatuh, juga terdapat juga topeng sakral di daerah Ketewel, Sukawati, yaitu topeng Sang Hyang atau Sang Hyang Topeng. Topeng ini bermuka wanita sehingga disebut Topeng Widyadari atau Bidadari,. Topeng itu ada tujuh buah, yaitu topeng Widyadari Kendran, Nilotama, Gagar Mayang, Sulasih, Gudita, Supraba dan Aminaka.
Di Desa Trunyan terdapat  Topeng Brutuk yang sering disebut Batara Brutuk. Di Desa Trunyan sebuah pura bernama Pura Pancering Jagat. Di pura itu terdapat sebuah patung besar tanpa busana setinggi empat meter yang bernama Bhatara Datonta atau Batara Ratu Pancering Jagat. Batara Ratu Pancering Jagat memiliki sebanyak 21 orang unen-unen dalam bentuk topeng yang dinamakan topeng Brutuk. Wajah topeng-topeng itu menyerupai topeng-topeng primitif, matanya besar dengan warna putih atau coklat, diduga peninggalan kebudayaan pra-Hindu Bali . Topeng-topeng Brutuk itu ditarikan oleh anggota sekaa taruna. Sebelum menari para taruna harus melewati proses sakralisasi selama 42 hari.
Selain itu, terdapat juga Barong yang merupakan topeng yang berwujud binatang, mitologi yang memiliki kekuatan gaib dan dijadikan pelindung masyarakat Bali. Barong Ket juga dianggap sebagai manifestasi dari Banaspati Raja, atau Raja Hutan. Orang Bali menganggap seekor Singa sebagai Raja Hutan yang paling dahsyat. Dalam pementasan tari Barong, figur Barong Ket dijadikan lambang kemenangan dan Rangda merupakan pihak yang kalah. Namun di luar konteks seni pergelaran, kedua figur itu disandingkan sebagai pelindung masyarakat. Selain Barong Ket, di Bali terdapat beberapa jenis Barong lainnya, seperti Barong Bangkal, Barong Gajah, Barong Macan, dan Barong Asu.
Ada juga Barong Landung dari segi wujudnya berbeda dengan barong-barong lainnya di Bali. Barong Landung diduga manifestasi dari perkawinan Dalem Balingkang (Jaya Pangus) dengan Putri Cina bernama Kang Ching Wie. Perkawinan itu tidak direstui oleh Bhatari Batur, yang kemudian mempralina keduanya. Sebagai tonggak peringatan, maka keduanya diwujudkan ke dalam pratima kecil dan disembah di Pura Batur. Sebagai wujud besarnya, kedua pratima itu dibuat dalam bentuk Barong Landung, laki-laki dan perempuan, Jero Gede dan Jero Luh.
Barong Dingkling atau Wayang Wong disebut juga Barong Blas-blasan. Ciri khas penampilan Barong Dingkling adalah meloncat-loncat dan kemudian berpisah-pisah satu sama lain untuk mencari sasarannya. Barong Dingkling yang tapelnya berupa topeng-topeng wanara seperti Sugriwa, Anoman, Anggada, Menda, dan Jumawan, merupakan tari penolak bala dan hama. Setiap tokoh itu mengusir hama-penyakit. Para wanara yang meloncat-loncat keriangan, dengan bunyi-bunyi ngore seperti monyet, menggetarkan pohon-pohon kelapa pertanda ritual pembersihan dilakukan.
Ada juga topeng Rangda, nama lain dari Calonarang — janda dari Desa Girah (Dirah) yang mempraktekkan desti (ilmu hitam) berwujud sebuah topeng yang sangat mengerikan. Biasanya menggambarkan sifat kejahatan dalam dramatari Calonarang. Rangda sebagai sungsungan (sakral) hampir tak pernah dipisahkan keberadaannya dengan Barong Ket. Keduanya distanakan sebagai makhluk dahsyat yang bisa memberi perlindungan kepada masyarakat penyungsungnya. Hampir setiap desa di Bali memiliki kedua tokoh ini yang sebagai penjaga keselamatan desa.
Yang terakhir adalah Topeng Babad yang menggunakan babad sebagai sumber lakonnya. Ada dua jenis Topeng Babad yaitu Topeng Pajegan dan Topeng Panca. Topeng Pajegan dimainkan seorang penari (aktor) yang sendirian menarikan 8-12 tokoh berbeda dalam sebuah pementasan. Topeng Pajegan disebut juga Topeng Wali, karena ia berfungsi untuk sarana upacara keagamaan dan dipentaskan sejajar dengan Wayang Lemah. Sedangkan Topeng Panca dipentaskan oleh lima orang penari.
Jenis-jenis Dramatari Topeng di Bali
1. Topeng Pajeganyang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan.
2. Topeng Sidakarya Di dalam topeng Pajegan ada topeng yang mutlak harus ada, yakni topeng Sidakarya. Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng Pajegan dengan upacara keagamaan, maka topeng ini pun disebut Topeng Wali. Dramatari Topeng hingga kini masih ada hampir diseluruh Bali
3. Topeng Pancayang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon,
4. Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres, seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar.
Nama Arja di duga berasal dari kata Reja (bahasa sansekerta) yang berarti keindahan. Arja adalah semacam opera khas Bali, merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat. Dramatari Arja ini adalah salah satu kesenian yang sangat digemari di kalangan masyarakat.
Arja diperkirakan muncul pada tahun 1820an, pada masa pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. Tiga fase penting dalam perkembangan Arja adalah:
• munculnya Arja Doyong (Arja tanpa iringan gamelan, dimainkan oleh satu orang).
• Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang).
• Arja Gede ( yang dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang).

Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat), kemudian lahirlah sejumlah cerita seperti Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godogan, Cipta Kelangen, Made Umbara, Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat.
Arja juga menampilkan lakon-lakon dari cerita rakyat seperti Jayaprana, Sampik Ingtai, Basur dan Cupak Grantang serta beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing - masing terdiri dari Punta dan Kartala. Hampir semua daerah di Bali masih memiliki grup-grup Arja yang masih aktif.
Menjelang berakhirnya abad XX lahir Arja Muani, pemainnya semua pria, sebagian memerankan wanita. Arja ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat karena, menghadirkan komedi segar.

Friday, June 10, 2011

Saya + Dewi Yunani tanpa lengan.

Pada tanggal 3 Juni 2011, tepatnya pada hari Jumat; saya pergi mengunjungi Museum Louvre yang terletak di Paris, Perancis. Museum Louvre memiliki sebuah piramida kaca dan besi besar, dikelilingi oleh tiga piramida kecil, di taman Museum Louvre. Piramida utama berperan sebagai pintu masuk utama ke museum. Selesai dibangun tahun 1989, bangunan ini menjadi markah tanah bagi kota Paris.

Membahas museum ini sendiri, berdirinya museum ini dicetuskan oleh Presiden Perancis (François Mitterrand) tahun 1984, bangunan ini dirancang oleh arsitek I. M. Pei, yang bertanggung jawab atas perancangan Museum Miho di Jepang. Struktur ini, yang dibangun seluruhnya dari kaca, mencapai tinggi 20.6 meter (sekitar 70 kaki); bagian dasarnya memiliki panjang sisi 35 meter (115 kaki). Terdiri dari 603 kaca belah ketupat dan 70 kaca segitiga.
Piramida dan lobi bawah tanah dibangun karena berbagai masalah dengan pintu masuk utama Louvre yang asli, yang tak dapat menangani jumlah pengunjung yang banyak setiap hari. Pengunjung yang masuk melalui piramida turun ke lobi luas dan naik ke bangunan utama Louvre. Beberapa museum lainnya telah menggunakan konsep ini, yang terkenal Museum Pengetahuan dan Industri di Chicago. Pembangunan dasar piramida dan lobi bawah tanah dilakukan oleh Dume.
Museum ini memiliki beberapa karya-karya terhebat di dunia, dan salah satunya ialah patung yang bernama Aphrodite (Venus De Milo).


Patung Venus de Milo diperkirakan dibuat antara tahun 100 M hingga 130 SM. Patung ini diyakini menggambarkan dewi Aphrodite (Venus untuk versi Romawi), yakni dewi cinta dan keindahan bangsa Yunani. Dewi ini diasosiasikan dengan cinta dan kecantikan, identik dengan Afrodit dan Etruscan deity Turan dari mitologi Yunani. Image Venus merupakan gabungan di antara keduanya. Selain itu terdapat dewi sejenis Tlahuizcalpantecuhtli di peradaban Aztec, atau Kukulcan di peradaban Maya.
Patung Venus de Milo ini terbuat dari marmer dengan ukuran sedikit lebih besar dari manusia normal dengan tinggi 203 cm. Lengan patung ini telah hilang; Sisi kanan patung lebih hati-hati dikerjakan + diselesaikan dari sisi kiri dan belakang, yang menunjukkan bahwa patung itu dimaksudkan untuk dilihat lebih baik dari sisi kanan. Jika lengan patung ini masih ada, seharusnya tangan kirinya memegang sebuah apel ke udara cenderung ke belakang. Ketika tangan kiri masih menempel di patung, akan menjadi jelas bagi pengamat/kita bahwa dewi itu sedang melihat sebuah apel yang ia angkat di tangan kirinya. Dari prasasti yang terdapat pada alasnya, patung ini diperkirakan merupakan karya Alexandros dari Antiokhia. Uniknya, patung itu ditemukan secara tidak sengaja di sebuah ladang pertanian. Keterangan teknis: Patung ini memiliki gaya klasik dari Yunani Kuno. Pose tubuh dibuat dengan teknik consapilopilo. Kaki kanan menjadi tumpuan berat badan, sementara kaki kiri terangkat sehingga memberikan kesan berdiri dengan ‘santai’. Pose Venus de Milo dapat melambangkan sikap bercermin juga, sedang mengagumi dirinya sendiri. Patung ini juga memperlihatkan penerapan drappurmu walaupun belum begitu halus.

Penemu Venus De Milo adalah seorang petani bernama Yorgos Kentrotas dan ditemukan pada tanggal 8 April 1820, terkubur di dalam reruntuhan kota kuno Milos, di pulau Aegea. Olivier Voutier, seorang perwira angkatan laut Perancis awalnya menjelajahi pulau itu. Dengan bantuan Yorgos, Voutier mulai menggali sekitar reruntuhan kuno. Dalam beberapa jam, Venus de Milo akhirnya berhasil ditemukan.
Terkenalnya Aphrodite dari kaum Miloss ini besar di abad ke-19. Bukan hanya karena keindahannya yang diakui dunia, tetapi juga karena kepada upaya propaganda besar oleh pemerintah Perancis. Pada tahun 1815, Perancis telah mengembalikan The Medici Venus ke Italia, setelah itu dijarah dari Italia oleh Napoleon Bonaparte. The Medici Venus, dianggap sebagai salah satu patung-patung klasik terbaik yang ada, menyebabkan Perancis untuk mempromosikan Venus de Milo sebagai harta besar, secara sengaja tentunya. Hal ini sebagaimana mestinya dipuji oleh seniman dan kritikus sebagai lambang keindahan seorang ‘perempuan anggun. Pierre-Auguste Renoir adalah salah satu pengkritiknya, me-label patung ini sebagai "gendarme besar".
Patung ini sendiri seharusnya bisa berwarna seperti kebiasaan-kebiasaan patung pada zaman itu, dihiasi dengan perhiasan dan diposisikan dalam ceruk dalam gimnasium. Lukisan patung dalam perhiasan tersebut dimaksudkan untuk membuatnya tampak lebih hidup. Tetapi sampai hari ini, semua jejak cat yang ada telah menghilang dan tanda-tanda dari ban lengan, kalung, anting-anting dan mahkota patung tersebut hanyalah suatu lubang lampiran.
Ciri memutar dan proyeksi yang kuat akan lutut patung, serta kualitasya, kayanya akan tiga dimensi, adalah khas seni Helenistik abad ketiga Setelah Masehi dan setelahnya. Selain itu, penjajaran sensual dengan tekstur kain, yang tampaknya akan lolos dari sosok tersebut; menambah catatan kuat sebuah ketegangan erotis yang menyeluruh Helenistik dalam konsep dan niat.

Untuk membahas penemuan patung ini lebih detil, seperti yang telah ditulis sebelumnya; The Aphrodite dari Milos ditemukan oleh seorang petani bernama Yorgos Kentrotas pada tanggal 8 April 1820, dalam sebuah ceruk terkubur di dalam reruntuhan kota kuno Milos, di pulau Aegea Milos (juga Melos, atau Milo). Patung ini ditemukan dua bagian utamanya (tubuh bagian atas dan kaki terbungkus tetapi lebih rendah) bersama dengan beberapa herms (pilar atasnya dengan kepala), fragmen dari lengan kiri atas dan tangan kiri memegang sebuah apel, dan alas yang tertulis. Olivier Voutier, seorang perwira angkatan laut Perancis, pergi menjelajahi pulau itu. Dengan bantuan dari petani muda, Voutier mulai menggali daerah sekitar; reruntuhan kuno. Dalam beberapa jam, Voutier berhasil menemukan Venus de Milo. Sekitar sepuluh hari kemudian, seorang perwira angkatan laut Perancis, Jules Dumont d'Urville, diakui kepentingannya, mengatur pembelian oleh duta besar Prancis ke Turki, Charles-François de Riffardeau, marquis, kemudian duc de Riviere. Dua belas hari kemudian, keluar dari Touloun, kapal itu berlabuh di pulau Melos. Sesampainya di darat, d'Urville dan Matterer (petugas) bertemu seorang petani Yunani, yang beberapa hari sebelumnya, telah menemukan blok marmer dan patung dalam dua bagian, yang menawarkan harga murah ke dua laki-laki muda. Blok marmer tersebut (patung itu) adalah seorang wanita dengan sebuah apel, yang diangkat oleh tangan kiri, tangan kanan memegang sabuk tersampir jatuh dari pinggul ke kaki, kedua tangan rusak dan terpisah dari tubuh. Bahkan dengan hidung patah, wajah itu tetap indah. D'Urville klasik mengakui Venus dari Penghakiman Paris. Saat itu, tentu saja, de Milo Venus. Dia sangat ingin mendapatkannya; tetapi kapten merupakan orang yang praktis, rupanya tidak tertarik pada barang-barang antik. Ia mengatakan ada tempat untuk menyimpannya di kapal, sehingga transaksi berakhir. D'Urville pada saat kedatangan di Konstantinopel menunjukkan sketsa yang ia dibuat untuk duta besar Perancis, Marquis de Riviere, yang mengutus sekretaris ke sebuah kapal Angkatan Laut Perancis, agar membelinya untuk Perancis. Sebelum dia bisa menerima pengiriman, para pelaut Prancis harus berjuang dengan perampok-perampok Yunani untuk merebut kepemilikan. Dalam jarak dekat, patung itu diseret melintasi batu ke kapal, kedua lengan putus, dan para pelaut menolak untuk kembali dan mencari bagian-bagian hilang tersebut.
Berita tentang penemuan patung tersebut, membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya agar sampai ke duta besar Perancis. Petani tersebut pada akhirnya lelah menunggu pembayaran, dan dipaksa menjual ke Nicholas Mourousi, juru bahasa terkenal Armada, bekerja sebagai penerjemah Sultan Mahmud II di Konstantinopel (yang sekarang dikenal Istanbul, Turki). Perwakilan Duta Besar Perancis, Vicomte de Marcellus, tiba di tempat bersamaan dengan patung itu, yang sedang dimuat di atas kapal laut menuju Konstantinopel, merebut patung tersebut dan membujuk warga kepala pulau itu untuk membatalkan penjualan. Pada tahun 1821, Nicholas Mourousi dieksekusi atas perintah Sultan Mahmud II di depan arsenal (di Konstantinopel). Tragedi ini merupakan eksekusi yang besar di tengah-tengah Phanariote Yunani dan awal Perang Kemerdekaan Yunani.
Sesampainya patung itu di Museum Louvre, patung itu dipasang kembali. Tetapi, fragmen dari tangan kiri dan lengan diberhentikan sebagai restorasi; karena pengerjaan akan yang kasar. Venus de Milo ternyata berhasil diukir sekurangnya enam sampai tujuh blok marmer Parian; satu blok untuk batang tubuhnya, lain blok untuk kakinya yang terbungkus, blok yang lain untuk masing-masing setiap lengan, blok kecil lainnya untuk kaki kiri, lain blok lagi untuk alas tertulisnya, dan akhirnya Herm yang secara terpisah diukir berdiri di samping dewi Aphrodite ini.

Melihat patung ini dengan mata kepala saya sendiri, merupakan hal yang perasaan terkagum-kagum. Seperti yang telah tercantum diatas, walau kedua lengan dan beberapa bagian dari patung ini telah tiada; patung Venus De Milo ini tetap indah; di mata saya pribadi, pun- dan tentunya orang-orang lain juga. Saat saya mencoba melihat patung ini secara lebih dekat merupakan hal yang agak sulit, dikarenakan betapa banyaknya orang yang mengelilingi patung tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sampai sekarangpun, patung ini sangat terkemuka di kalangan masyarakat dunia.

SAYA dan SAKSI SEJARAH G30SPKI

saya bersama oma (Hendrianti Sahara Nasution)

 Jakarta,24 Februari 1952 ,lahirlah anak perempuan dari pasangan Abdul Haris Nasution (almarhum) dan Johana Sunarti Nasution (alm) yang bernama Hendrianti Sahara Nasution. Hendrianti Sahara Nasution yang biasa saya panggil oma ini adalah anak yang pintar. Terbukti dengan nilai-nilai yang beliau dapatkan bagus-bagus,apalagi sejarah,beliau selalu mendapat nilai 10 pada pelajaran sejarah. Oma  memiliki seorang ayah yaitu seorang Jendral Besar. Oma jg memiliki adik bernama Ade Irma Sukyani Nasution (alm). Tetapi adik oma yang kita kenal dengan nama Ade Irma ini sudah meninggal saat berumur kurang lebih 5 tahun. Beliau meninggal karena tertembak saat peristiwa G30SPKI. Setelah saya mewawancarai oma,saya akan menceritakan hasil dari wawancara saya,mengenai apa yang dilihat oma pada saat ayah beliau ingin ditangkap pd peristiwa G30SPKI.

Oma mulai bercerita ‘’seminggu sebelum peristiwa terjadi,sekeluarga pergi berlibur ke cipanas,saat lagi mengisi bensin,saya melihat ada 1 tentara yang sedang merokok membuang puntung rokok tsb sembarangan,pada saat itu yang hanya ada dipikiran saya adalah “jika terjadi kebakaran,bagaimana cara untuk menyelamatkan ade saya?” hanya itu yang ada dipikiran saya. Mulai dari situ,saya sudah memiliki firasat-firasat tidak enak.

5 Oktober 1965,menjelang hari ABRI,saat itu suasana sudah tidak enak. saya telah berumur 13 tahun,dan menduduki sekolah kelas 2 SMP di Yayasan Perguruan Cikini. Hari itu saya mau meihat latian militer,ade irma yang saat itu sedang tidur dipangkuan ibu saya,terbangun karena mau ikut melihat juga. Karena ade irma masih terlalu kecil,saya melarangnya. Ade irma pun menangis karna tidak diperbolehkan ikut. Akhirnya ade irma menuruti nasihat saya. Setelah pulang dari melihat latiha militer,ternyata ade irma sudah tertidur kembali.
Jam 12 malam,datang intelegent kolonel magenda,beliau melaporkan situasi yang sudah idak kondusif. Ayah pun menyuruh kami sekeluarga solat. Setengah 4 pagi saya denger tembakan,suara itu seperti ac yang meledak. Saya yang tidur sekamar dengan pengasuh ade irma,tiba2 pengasuh menyuruh saya menaiki dan melompat ke jendela lalu lari. Pada saat itu perasaan saya bingung dan takut sekali. Saya tidak tau harus lari kemana. Lalu saya hanya melihat tinggal 1 tentara yang tersisa,dari sekian banyak tentara yang ada di rumah saya. Lalu saya masuk ke ruang ajudan yang bernama Lettu Czi Pierre Tendean. Saya membangunkannya dan berkata ‘’om pier,ada apa ini? Ac ayah meledak ya?’ .’’

Lalu oma memotong cerita tsb dan langsung ingin bercerita dari sisi yang dilihat oleh ibunya. Oma pun bercerit kembali ‘’ waktu itu ibu saya sudah punya perasaan bahwa ayah saya akan dibunuh. Malam itu,ade tidur ditengah-tengan antara ayah dan ibu. Subuh-subuh,ayah dan ibu terbangun karena ingin membunuh nyamuk. Lalu ibu mendengar suara pintu digedor-gedor. Ibu saya pun mengecek keluar kamar. Ternyata benar dugaannya,bahwa rumah kami sudah di kepung. Ibu msk kamar lalu berkata kepada ayah saya ‘’mereka datang’’ . ayah pun ingin menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan siapapun,tetapi ibu melarangnya. Tidak lama kemudian pintu kamar tidur mereka pun ditembak. Ibu yang sedang berada diposisi tepat dibelakang pintu tidak tertembak untungnya. Beberapa kali tembakan diluncurkan ke pintu kamar. Dan atas lindungan Allah,tidak ada satu pelurupun yang terkena salah satu dari kami. Karena bunyi tembakan tsb, Ade Irma pun terbangn dan langsung berdiri turun dari tempat tidur. Beberapa saat kemudian tante saya bersama ibu dr bpk Nasution (oma saya) masuk ke kamar lewat pintu belakang. Oma saya menyuruh ayah kabur,tetapi ayah sempat tidak mau meninggalkan kami. Oma pun bilang bahwa yang mereka cari hanya ayah,bukan yang lain. Akhirnya ayah kabur denga melompati tembok,ternyata ayah jatuh ke kedutaan Irak. Sangat beruntung sekali. Karena kecil kemungkina mereka akan mengira bpk Nasution akan melompat kesana. Di waktu yang sama,karena bingung dan panik,tante menggendong ade dan membawa ade keluar melewati pintu depan. Dengan jarak yang dekat,ade pun tertembak. Lalu ade digendong oleh oma saya. Oma saya pun dengan sangat berani keluar dan menantang para pasukan sambil menggendong ade, oma saya berkata ‘’ Kamu datang kesini hanya untuk membunuh anak saya?!’’ lalu mereka menjawab “mana nasution?” oma pun marah dan berkata “BAPAK NASUTION!!!” lalu salah satu dari mereka bertanya “dimana dia?” oma “dia tidak ada,dia sedang ke bandung dari 2 hari yang lalu” . lalu pluit tanda penyerang berakhir pun dibunyikan. Ternyata ada laporan kalau bpk Nasution sudah tertangkap,dan waktu penyerangan pun sudah terlau  lama.

Setelah dibawa ke lubang buaya,ternyata mereka salah tagkap. Ternyata mereka menangkap ajudan Lettu Czi Pierre Tendean. Mereka sangat bingung,panik,dan cemas. Karena bapak Nasution adalah orang yang sangat penting yang harus mereka tangkap.

Kemudian Ade Irma segera dibawa kerumah sakit. Nama rumah sakitnya adalah RS Gatot Subroto. Saat itu saya sedang ngumpet ketakutan. Saya pun diajak ke rumah sakit untuk melihat ade. Ade Irma sangat hebat,karena 3 peluru ada dibadannya,tetapi dia tidak pingsan sama sekali. Malahan dia masih bisa berbicara. Ade berkata “kakak kenapa menangiis?” . 6 hari ade dirawat,dia pun meninggal dunia.
Selama pergolakan taun 65-67 saya tidak diperbolehkan sekolah. Akhirnya saya dipanggilkan guru kerumah,dan bersekolah dirumah. Harusnya saya bersekolah 3 tahun,tetpai saya hanya dua tahun. Saya pun masuk SMA umur 15 tahun. ‘’

Begitulah hasil dari wawancara saya. Terakhir beliau berpesan kepada saya “Sebagai anak muda,harus bisa membuka pikiran” dan “Generasi muda sekarang harus hati-hati!!”. Karena menurut beliau,sekarang sudah mulai ada tanda-tanda akan terjadi seperti peristiwa G30SPKI. Awalnya dimulai dari tawuran-tawuran,kerusuhan dimana-mana,kompetisi olahraga yang sudah kurang sportifitasnya. Sama persis seperti dulu sebelum terjadi peristiwa G30SPKI.
 
Saya iseng-iseng bertanya,apakah sampai sekarang oma masih trauma. Ternyata beliau menjawab iya. Beliau sampai sekarang masih trauma. Jika beliau mendengar suara pemadam kebakaran,beliau bisa-bisa,lari-lari,kabur terus ngumpet. Lalu beliau juga tidak bisa melihat dan mendegar keributan-keributa,seperti tawuran,kerusuhan dll. Dan ernyata beliau juga masih memeliki sesuatu yang belum hilang-hilang sampai sekarang,yaitu ada salah satu bagian dari badannya yang masih sakit sampai sekarang akbit terkena benturan saat beliau melompat ke jendela yang terlalu tinggi dahulu.

Sangat senang saya bisa mewawancarai oma. Walaupun sangat sulit untuk bertemu oma. Karena oma cukup sibuk. Beliau masih bekerja. Dan saya pun juga sibuk,jadi waktu untuk bertemu selalu tidak ada yang cocok. Akhirnya saya bisa bertemeu beliau dan mewawancarai beliau,walaupun batas waktu pengumpulan tugas sudah lewat... beliau cukup seru untuk diwawancarai. Beliau menceritakan kejadian-kejadian tersebut dengan semangat,dan membuat saya asik sendiri mendengarnya. Tidak ada kesulitan untuk mewawancarai beliau,karena kebetulan saya mengenal beliau,dan beliau juga sudahmengenal saya.
Lalu saya diajak beliau untuk ketempat museum yang beliau meliki. Museum tersebut adalah bekas tempat tinggal keluarga Jendral Besar DR. A.H. Nasution. Tahun 2008 mereka pindah rumah dan menjadikan rumah tersebut museum. Saya diajak kesana untuk melihat lebih nyaa lagi,agar bisa membayangkan kejadian-kejadian yang terjadi. Dan disana saya bisa dijelaskan lebih lengkap lagi. Sekian wawancara saya dengan Ibu Hendrianti Sahara Nasution.

Tuesday, June 7, 2011

Saya dan Koleksi Museum, Waruga

Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu dan terdiri dari dua bagian. Bagian atas berbentuk segitiga seperti bubungan rumah dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang.Waruga merupakan peninggalan kebudayaan megalithic orang minahasa yang berkembang awal abad ke 13 SM, tapi kemunculannya di tafsir sekitar abad ke 16 pertengahan. Waruga pertama muncul di daerah bukit kelewer, Treman dan Tumaluntung dan terus berkembang diberbagai daerah di sulawesi utara sampai awal abad 20 masehi.
Mula-mula Suku Minahasa jika mengubur orang meninggal sebelum ditanam terlebih dulu dibungkus dengan daun woka (sejenis janur). Lambat laun, terjadi perubahan dalam kebiasaan menggunakan daun woka. Kebiasaan dibungkus daun ini berubah dengan mengganti wadah rongga pohon kayu atau nibung kemudian orang meninggal dimasukkan ke dalam rongga pohon lalu ditanam dalam tanah. Baru sekitar abad IX Suku Minahasa mulai menggunakan waruga. Orang yang telah meninggal diletakkan pada posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Tujuan dihadapkan ke bagian Utara yang menandakan bahwa nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara. Sekitar tahun 1860 mulai ada larangan dari Pemerintah Belanda menguburkan orang meninggal dalam waruga.
Kemudian di tahun 1870, Suku Minahasa mulai membuat peti mati sebagai pengganti waruga, karena waktu itu mulai berjangkit berbagai penyakit, di antaranya penyakit tipus dan kolera. Dikhawatirkan, si meninggal menularkan bibit penyakit tipus dan kolera melalui celah yang terdapat di antara badan waruga dan cungkup waruga. Bersamaan dengan itu pula, agama Kristen mengharuskan mayat dikubur di dalam tanah mulai menyebar di Minahasa. Waruga yang memiliki ukiran dan relief umumnya terdapat di Tonsea. Ukiran dan relief tersebut menggambarkan berapa jasad yang tersimpan di waruga yang bersangkutan sekaligus menggambarkan mata pencarian atau pekerjaan orang tersebut semasa hidup.
Di Minahasa bagian utara, pada awalnya waruga-waruga yang ada tersebar yang akhirnya dikumpulkan pada satu tempat. Saat ini waruga yang tersebar tersebut dikumpulkan di Desa Sawangan, Kabupaten Minahasa Utara, yaitu sebuah desa yang terletak di antara Tondano (ibukota Kabupaten Minahasa) dengan Airmadidi (ibukota Kabupaten Minahasa Utara). Kini lokasi waruga-waruga di Desa Sawangan tersebut menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Sulawesi Utara.

Menurut sejarah tertulis dan tuturan, waruga berasal dari bahasa Tombulu (salah satu dari anak suku minahasa) dari kata Wale maruga yang berarti; rumah dari badan yang akan kering, sedangkan dalam arti lainnya wale waru atau; Kubur dari domato (jenis tanah lilin) yang isinya tubuh yang akan hancur. Umur Waruga tidak dapat dipastikan karena bangsa Minahasa pada saat itu belum mengenal tulisan namun berdasarkan berbagai sumber waruga telah ada sebelum zaman kristianisasi atau sebelum abad 16 masehi. Waruga terdiri dari dua bagian yaitu bagian badan dan bagian tutup. bagian badan berbentuk kubus dan bagian tutup berbentuk menyerupai atap rumah.

Waruga berfungsi sebagai wadah penguburan mayat atau orang yang sudah meninggal. Pada zaman pra-sejarah masyarakat minahasa percaya bahwa roh leluhur memiliki kekuatan magis sehingga wadah kubur mereka harus dibuat sebaik dan seindah mungkin dan hal yang paling menarik ialah setiap waruga (kuburan tua) itu dibuat oleh orang yang akan meninggal itu sendiri dan ketika orang itu akan meninggal dia dengan sendirinya akan memasuki waruga itu setelah diberi bekal kubur yang selengkapanya, kelak bila itu dilakukan dengan sepenuhnya akan mendatangkan kebaikan bagi masyarakat yang di tinggalkan.

Di sulawesi utara banyak lokasi yang memiliki waruga. Lokasi itu disebut sebagai situs karena mengandung benda cagar budaya. Pada saat ini situs- situs itu banyak yang sudah menjadi perkampungan atau ladang penduduk dan tidak teratur dengan baik. Kompleks waruga sekarang ini sering juga disebut orang sebagi Minawanua, Makawale atau bekas kampung. Sesuai dengan kepercayaan masyarakat pra-sejarah, situs-situs itu kebanyakan berada pada di daerah ketinggian. Situs waruga di minahasa khususnya minahasa utara antara lain terdapat di Treman (±368 waruga), di Sawangan (±144 waruga), Airmadidi bawah (±80an waruga) dan juga disekitar Kaima, kauditan, tumaluntung, matungkas, laikit, likupang, kawangkoan kuwil, sukur, suwaan dan ada juga ditempat lain di daerah minahasa raya. bahkan ada juga waruga yang ditmukan di daerah luar minahasa, misalnya di jakarta, pantai selatan Banten, bandung, kalimantan dan halmahera. Bentang alam daerah khususnya minahasa utara ini merupakan lembah alluviasi batuan dasar tufa. Lembah alluviasi itu terbentuk oleh material hasil pengikisan lereng gunung Klabat. Gunung berapai inilah yang menyediakan bahan batuan untuk membuat waruga.

Waruga adalah peti kubur peninggalan budaya Minahasa pada zaman megalitikum. Didalam peti pubur batu ini akan ditemukan berbagai macam jenis benda antara lain berupa tulang- tulang manusia, gigi manuisa, periuk tanah liat, benda- benda logam, pedang, tombak, manik- manik, gelang perunggu, piring dan lain- lain. Dari jumlah gigi yang pernah ditemukan didalam waruga, diduga peti kubur ini adalah merupakan wadah kubur untuk beberapa individu juga atau waruga bisa juga dijadikan kubur keluarga (common tombs) atau kubur komunal. Benda- benda periuk, perunggu, piring, manik- manik serta benda lain sengaja disertakan sebagai bekal kubur bagi orang yang akan meninggal.