Saturday, May 28, 2011

Saya Dan Koleksi Museum "Motor Patroli"

Dalam rangka untuk menyelesaikan tugas sejarah ketiga, penulis menyempatkan waktu kosong penulis tepatnya setelah salat jumat pada tanggal 20 Mei 2011 untuk mengunjungi sebuah museum yang terletak di Jakarta Selatan, Museum Polri yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah penulis. Museum Polri terletak pada Jl. Trunojoyo No. 3 Kebayoran Baru - Jakarta Selatan Kode Pos 12110. Untuk memasuki museum Polri ini kita tidak dipungut biaya apapun / gratis. Namun tas yang dibawa oleh pengunjung haus ditiitpkan dan dimasukkan ke dalam loker yang telah disediakan untuk pengunjung Museum Polri untuk menjaga keaslian dari koleksi koleksi museum ini dan mencegahnya berpindah tangan ke orang orang yang tidak bertanggung jawab.

Museum ini berisi sejarah Polri sejak berdirinya di masa penjajahan hingga sekarang. Di dalamnya tertuang kisah perjalanan Polri dari zaman kemerdekaan, masuk ke dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia hingga terpisah dari ABRI, dan menuju Polri mandiri dan profesional. Museum Polri ini sendiri terdiri dari 3 lantai yang masing masing lantai berisi macam macam perlengkapan Polri baik seragam, kendaraan, senjata dan lain lain.
 Pada lantai pertama koleksi museum ini terdapat berbagai macam macam senjata dan kendaraan yang digunakan oleh Polri untuk menjalankan tugas mulianya yaitu menjaga keamanan. Pada lantai kedua terdapat seragam seragam Polisi, lencana lencana, lambang lambang dari masing masing Polri dari setiap provinsi di seluruh Indonesia dan juga mesin/mobil penjinak bom. Sedangkan pada lantai ketiga terdapat jenis jenis bom yang digunakan para teroris untuk meneror negara kita tercinta serta replica keadaan setelah terjadinya aksi bom tersebut.
Setelah berkeliling untuk melihat lihat koleksi dari Museum Polri tersebut, penulis memilih salah satu koleksi museum tersebut yang terletak di lantai pertama. Pada kesempatan kali ini penulis akan mengupas sedikit hal tentang salah satu koleksi dari Museum Polri yaitu motor patroli.
Motor ini adalah motor keluaran Harley Davidson tipe WLA C Class. Model ini diporduksi untuk keperluan tentara Amerika Serikat dalam menghadapi Perang Dunia Kedua. Model ini didasarkan pada model yang sudah diluncurkan untuk para warga sipil sebelumnya yaitu tipe WL dan tipe 45 solo, sehingga disebut sebagai motor berpenumpang satu yang berkapasitas silinder 470cc. Pada mesin yang sama juga, tedapat juga model yang beroda tiga Servi Car (tipe G).

Nama WLA itu sendiri bukan merupakan sembarang kode seri, melainkan memiliki arti masing masing. Huruf W merupakan symbol yang menandakan bahwa motor tersebut adalah diperuntukkan untuk motor keluarga. Huruf L memiliki arti “Low Compression” yang hanya ada pada motor bertipe W. dan huruf terakhir yaitu A menandakan bahwa motor teresebut diperuntukkan untuk keperluan militer (Army).
Tipe WLA ini sendiri sebenarnya hamper mirip dengan tipe untuk sipil pada umumnya, atau lebih jelasnya tipe WL. Hal hal yang membedakan tipe “militer” dengan tipe “sipil” terletak diantaranya pada:
-cat dan finishing. Permukaan cat biasanya dicat dengan warna Olive drab atau hitam atau Parkerized atau dicat dengan warna putih. Beberapa part umumnya dibiarkan polos tanpa cat.
-blackout lights. Alat ini berfungsi untuk mengurangi kemampuan melihat dalam malam hari, motor tipe WLA ini dibekali dengan satu set blackout untuk lampu utama dan lampu belakang.
-Pelindung air. Pada bagian samping motor ini yang umumnya terdapat pelindung air kini dihilangkan.
-asesoris-asesoris. Motor ini dilengkapi dengan satu rak besar untuk perlengkapan radio, kotak amunisi, pembungkus Thompson submachine gunyang tebuat dari bahan kulit, plat samping, pelindung kaki dan pelindung angin yang bisa diatur. Kebanyakan motor dalam keadaan standar yang berupa hanya tambahan pelindung angin atau pelindung kali saja.

Sejarah
Harley Davidson memulai produksi tipe WLA dalam jumlah kecil pada tahun 1940 sebagai expansi militer. Namun kemudian mulai menunjukkan jumlah produksi yang signifikan ketika Amerika Serikat mulai ikut dalam Perang Dunia kedua dengan jumlah produksi lebih dari 90.000 selama perang berlangsung. Produsen motor tipe WLA ini juga memproduksi tipe WLA ini untuk tentara Kanada yang kemudian diberi nama WLC. Selain itu motor ini juga disupply juga ke UK, Afrika Selatan dan sekutunya walau dalam jumlah yang terbatas.
Tidak seperti biasanya, seluruh Harley Davidson tipe WLA yang diproduksi setelah peristiwa Pearl Harbor diberi tanda “produksi 1942” dan motor tersebut dikenal dengan sebutan 42WLA. Tetapi pengebuahan kode tipe motor tersebut tidak mengubah spesifikasi dari tipe WLA ini. Sedangkan WLC kebanyakan diproduksi pada tahun 1943 dan diberi kode 43WLC. Kode kode tersebut dapat digunakan untuk memberikan data yang spesifik tentang waktu pembuatan motor tersebut dan beberapa bagian juga diberi kode tanggal dan bulan. Tetapi frame motor tersebut tidak diberi nomor serial sehingga tidak dapat diketahui dengan pasti tanggal pembuatannya.
Banyak dari motor jenis WLA ini dikirim ke sekutu atas program “Lend Lease”. Negara yang paling banyak membeli tipe ini adalah Uni Soviet, dengan penjualan lebih dari 30.000 unit. Produksi WLA menjadi terhambat selepas Perang Dunia Kedua, tetapi kemudian bangkit lagi ketika membantu memasok motor untuk Perang Korea dari tahun 1949 sampai tahun 1952. Kebanyakan tipe WLA yang umumnya dimiliki oleh orang orang barat dijual. Sehingga banyak juga prajurit-prajurit muda ingin memiliki motor Harley Davidson tersebut seperti yang mereka lihat saat di jalan ataupun di bengkel karena mengingat harga motor bekas tersebut yang lumayan murah.
Bagaimanapun, hal ini tidak menjamin bahwa segelintir motor tipe WLA yang asli muncul kembali di Amerika Serikat atau bahkan Eropa bagian barat. Terjadi perubahan signifikan terhadap populasi WLA yang tersisa di Uni Soviet, baik yang terdapat di toko maupun yang sudah menjadi hak milik pribadi. Dengan sedikit akses untuk mendapatkan onderdil onderdil yang asli, tidak adanya budaya Chopper, dan tidak terjadinya ekspor ke barat, mungkin motor ini akan tetap banyak jumlahnya setelah dampak dari perang dingin. Rusia beserta pendiri negara negara Uni Soviet sekarang menjadi produsen bagi Harley Davidson tipe WLA beserta onderdil onderdilnya.

Teknologi
Dapur pacu dari WLA ini adalah Side valve design, yang menggabungkan sebuah keefisiensitan kedalam sebuah overhead valve design. Harley Davidson sudah lebih dahulu menambahkan mesin mesin berkatup dalam memproduksi untuk “Big Twins”nya, tetapi “small twin” design flathead lebih terkenal dengan motor motor yang handal yang lebih dari sekedar tenaga. Mesin ini adalah sisa dari hasil produksi pada tahun 1937 sampai 1973 dalam Servi-Car, meskipun mesin ini menggantikan mesin flathead Modek K kedalam sebuah kendaraan beroda dua. Motor ini menggunakan bakar yang memiliki kadar oktan sekitar 74% meskipun itu merupakan standar minimalnya. Motor ini memiliki suspense depan yang bertipe Springer, sedangkan bagian belakang tidak memiliki suspense, sehingga motor ini disebut juga sebagai motor Hard Tail.
Mesin Harley Davidson tipe WLA C Class

Fungsi
Tentara Amerika Serikat menggunakan motor ini biasanya hanya sekedar untuk berpatroli ke daerah daerah terntentu. Hal ini dikarenakan terbatasnya jangkauan sinyal radio dan beratnya perlengkapan radio yang diangkut oleh motor tersebut yang menyebabkan kurangnya fleksibilitas dalam berkendara. Hal yang serupa juga terjadi di Indonesia. Motor ini biasa digunakan oleh Polri untuk berkeliling ke daerah daerah untuk menjaga keamanan. Hal itu merupakan tanggung jawab dari Polisi.
Pada deskripsi yang terdapat pada koleksi museum Polri tersebut mengatakan bahwa dahulu motor ini digunakan untuk berpatroli untuk menjaga keamanan kota sekitar tahun 1943. Pada tahun ini bangsa Indonesia belum merdeka dari penjajahan oleh Bangsa Jepang yang kejam tersebut. Menurut penjelasan dari salah seorang petugas di museum Polri tersebut, motor yang dipajang disana pernah pula dikendarai oleh Peltu Soedomo yang merupakan mantan Kepala Induk Pjr. Situbondo.
Penulis Dan Koleks Museum "Motor Patroli"

Suka Duka
Suka duka yang penulis alami untuk menyelesaikan tugas sejarah yang ketiga ini adalah pengaturan waktu. Hal ini agak sulit bagi penulis karena pada saat itu penulis disibukkan dengan berbagai macam tugas dan ulangan harian yang memaksa penulis untuk membuat skala prioritas untuk menyusun strategi agar seluruh tugas serta ulangan dapat terselesaikan sengan baik, rapi, ekonomis dan efisien. Terlepas dari hal itu, penulis juga mengalami kesulitan untuk memilih waktu yang tepat untuk mengunjungi museum Polri tersebut karena kebanyak museum di Jakarta memiliki jam tutup yang sangat berdekatan dengan jam pulang sekolah penulis, sehingga tidak memungkinkan penulis berkunjung ke museum pada hari sekolah selain hari Jumat. Kendala yang penulis alami juga ketika saat penulis akan pulang meninggalkan museum tersebut, ternyata cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan deras mengguyur sekitar Jakarta Selatan. Padahal museum tersebut sudah menunjukkkan pukul 15.00 yang berarti sebentar lagi museum akan ditutup. Dengan terpaksa penulis beserta teman teman menunggu di luar museum sambil mencari tempat berteduh. Setelah hujan mulai reda, penulis dan teman penulis berjalan menuju sekolah untuk melaksanakan salat ashar dan kemudian pulang ke rumah masing masing.

Harapan penulis terhadap museum Polri diantaranya penulis berharap agar koleksi koleksi museum Polri tersebut terus bertambah seiring keahlian Polri yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Selain itu penulis juga cukup senang dan nyaman berada di museum tersebut karena lingkungannya yang nyaman, bersih serta pelayanan yang ramah. Semoga museum Polri semakin baik dari waktu ke waktu.
Semoga apa yang penulis sampaikan saat ini dapat berguna bagi orang banyak, khususnya bagi yang ingin mengetahui lebih banyak tentang salah satu koleksi Museum Polri yang penulis baru saja jelaskan. Mohon maaf yang sebesar besarnya bila ada kesalahan penulisan, penulis memohon maaf.


1 comment:

  1. belajar terus. jangan menyerah pada hujan sekalipun. selalu ada WLA dan WLC yang akan menemani kita walupun polisi tidak.

    ReplyDelete