Friday, May 27, 2011

Saya dan Koleksi Museum, Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Pada hari Jumat, tanggal 20 Mei, yang bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional, saya mengunjungi salah satu museum yang berada di Jakarta, tepatnya di Jakarta Pusat, yang bernama Museum Nasional, atau sering dikenal dengan Museum Gajah.  Mengapa museum ini disebut sebagai Museum Gajah? Hal itu dikarenakan terdapat patung gajah yang ditempatkan di depan museum tersebut, yang merupakan pemberian dari perwakilan Thailand yang bernama Raja Chulalongkorn pada tahun 1871.


Museum Gajah dahulunya adalah sebuah rumah yang disumbangkan oleh salah satu pendiri lembaga milik Hinda Belanda yang bernama Bataviaasch Genootschap, yang meruapakn lembaga yang bertujuan untuk memajukan penelitian dalam bidang seni, dan ilmu pengetahuan. Pendiri yang menyumbangkan rumahnya bernama JCM Radermacher, ia juga mneyunbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku. Dan pda saat pemerintahan Inggris di Jawa, Sir Thomas Stanford Raffles memerintahkan pembangunan gedung, karena rumah yang lama itu sudah terlalu banyak koleksi. Dan dikarenakan koleksi di gedung tersebut semakin banyak, maka pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1862 memerintahakan pembangunan museum di lokasi yang sekarang gedung museum mulai dibuka untuk umum pada tahun 1868. Museum ini dianggap sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, LEmbaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, dan menjadi Museum Pusat. Setelah itu, berdasarkan Surat Keputusan Menteri PEndidikan dan Kebudayaan, No. 092/0/1979 pada tanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat dinaikkan statusnya menjadi Museum Nasional.

Pada lantai 2 di gedung B museum tersebut, saya mulai menemukan koleksi-koleksi peninggalan kerajaan Hindu-Budha, dan juga koleksi-koleksi alat produksi, alat transportasi, dan lain-lain. Saya menemukan berbagai macam prasasti-prasasti yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu-Budha. Maka kali ini saya akan membahas mengenai dua prasasti peninggalan kerajaan Hindu, yaitu kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Tarumenegara meninggalkan beberapa prasasti, seperti Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Muara Ciaten, Prasasti Tugu, Prasasti Pasir Awi, dan Prasasti Munjul. Prasasti yang akan saya bahas adalah Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Tugu. Sebelumnya, saya akan memperkenalkan kerajaan Tarumnegara.

 Kerajaan Tarumanegara berlokasi di Jawa Barat pada abad 5 Masehi, dan diperkirakan berada di wilayah Bogor. Kerajaan ini mengindikasikan penganut agama Hindu Waiswana atau aliran Wisnu. Raja yang disebut dalam prasasti Tarumanegara adalah Raja Purnawarman. Wilayah kerajaan ini meliputi daerah Banten, Jakarta hingga Cirebon. Terdapat dua jenis sumber mengenai kerajaan Tarumanegara, yaitu : berita Cina yang ditulis oleh Fa-Hien, dan tujah buah prasasti-prasasti yang sudah disebutkan di atas. Ketujuh prasasti tersebut ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Dan berdasarkan sumber-sumber tersebutm kita dapat mengetahui aspek-aspek kehidupan yang dijalani oleh kerajaan Tarumanegara. Pada aspek ekonomi, mata pencaharian utama masyarakat Tarumanegara adaalah bertani, sebagian lagi bermata pencaharian sebagai pedagang. Pada aspek keagamaan, mayoritas masyarakat kerajaan Tarumanegara beragama Hindu, sebagaian lagi Budha, dan sebagian lainnya menganut animisme-dinamisme, dimana mereka menyembah barang-barang mati dan juga roh nenek moyang. Menurut para sejarawan, dari teknik dan cara penulisan huruf-huruf pada prasasti yang ditemuka, dapat diketahui bahwa tigkat kebudayaan masayrakat Tarumanegara sudah tinggi.

Saya dan Prasasti Tugu
Prasasti Tugu menceritakan mengenai Sungai Candrabhaga dan Gomati yang ditafsirkan sebagai sungai yang digunakan masyarakat untuk pengairan. Prasasti ini ditemukan di Desa Tugu, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dikatakan juga bahwa menggali kanal Sungai Candrabhaga dan Gomati ini adalah untuk mencegah banjir, serta mencegah kekurangan air pada musim kemarau di kerajaan Tarumanegara. Berkut ini adalah teks yang berada di prasasti tersebut, ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta :

“pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau// pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana// prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka// pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//”

Berikut adalah kutipan makna dari tulisan tersebut:

“Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memiliki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur. Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) beliau pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja Purnnawarmman). Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”

Keunikan dari Prasasti Tugu antara lain, ini merupakan prasasti terpanjang yang pernah dikeluarkan oleh Raja Purnawarman. Dari prasasti ini bisa diketahui bahwa aspek kehidupan sosial mereka sudah tinggi. Mereka memikirkan benar cara agar mereka tidak terkena banjir, dan tidak kekurangan air, pada waktu 1500 tahun yang lalu. Dengan cara seperti ini, air dialirkan ke sungai yang masuk ke daerah Jakarta, dan setelah itu ditampung dan dikendalikan jumlahnya agar tidak membajiri wilayah kota, dan setelah itu dialirkan ke berbagai daerah melalui kanal-kanal yang lain.  Betapa berharganya peristiwa ini bagi masyarakat dan bagi Raja Purnawarman sendiri, maka ia membuat prasasti Tugu ini sebagai catatan peristiwa luar biasa ini. Raja Purnawarman adalah raja yang menurut rakyatnya bijaksana, pintar, kuat, dan lain-lain. Karenanya, mereka sangat patuh terhadapnya. Selain itu, terdapat lagi sebuah prasasti yang menjadi bukti bahwa Raja Purnawarman merupakan raja yang berkekuasaan tinggi, bukti tersebut berada di prasasti Ciaruteun.

Mengapa disebut prasasti Ciariteun? Prasasti ini dulu awalnya ditemukan di tepi Sungai Ciaruteun. diakibatkan banjir besar pada tahun 1893, batu tersebut terseret oleh air sampai beberapa meter ke hilir. Agar tidak terseret lagi, maka  batu tersebut pada tahun 1981 akhirnya diangkat dan dipindahkan ke tempat yang kurang lebih sekitar100 meter jauhnya dari lokasi pertama kali batu prasasti tersebut ditemukan.
Prasasti Ciaruteun yang merupakan salah satu peninggalannya, menceritakan tentang Raja Purnawarman yang merupakan penjelmaan dari Dewa Wisnu.  Prasasti Ciaruteun ditulis dalam bentuk puisi 4 baris, berbunyi:
"vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam".
Yang dapat diartikan sebagai :
"Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara"

Saya dan Prasasti Ciaruteun
Terlihat di gambar bahwa terdapat dua telapak kaki, yang merupakan telapak kaki dari Raja Purnawarman. Yang berarti bahwa Raja Purnawarman menguasai tempat prasasti itu ditemukan, intinya adalah itu menujukkan bahwa Raja Purnawarman berkuasa atas kerajaan Tarumanegara. Dan dari isi prasasti tersebut, dapat dikatakan bahwa Raja Purnawarman diibaratkan sama  kedudukannya seperti Dewa Wisnu di Tarumanegara, bahwa beliau adalah pelindung sekaligus penguasa Tarumanegara. Dari bukti ini, dapat dikatakan bahwa Raja Purnawarman merupakan raja yang sangat bijaksana, bahkan kedudukan beliau diibaratkan sama dengan Dewa Wisnu. Dewa Wisnu adalah dewa pelindung. Maka dari itu, Raja Purnawarman berarti memipin kerajaannya dengan sangat baik. Bahkan bisa dilihat dari prasasti-prasasti yang lain bahwa beliau memiliki sikap dan perlakuan yang baik untuk kerajaannya.

Selain itu, tidak hanya di dua prasasti ini saja yang bercerita mengenai Raja Purnawaman.  Prasasti Jambu, Prasasti Munjul, juga menceritakan mengenai kebijaksanaan Raja Purnawarman dalam memerintah Kerajaan Tarumanegara. Prasasti Telapak Gajah juga bercerita seputar Raja Purnawarman.

Saya sangat senang bahwa akhirnya ada kesempatan bagi saya untuk mengunjungi Museum Gajah, karena terkahir kali saya kesana adalah sekitar 5 tahun yang lalu. Saya merasa senang bahwa banyak turis yang berkunjung ke museum tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa museum adalah salah satu objek wisata yang diminati oleh turis yang mengunjungi Indonesia. Selain itu, gedung B yang baru itu juga sangatlah bagus, rapih, bersih, dan sangat terfasilitasi. Namun sayangnya saat itu sedang mati lampu, saya tidak bisa mengunjungi semua bagian museum, dan saya tidak bisa menikmati fasilitas-fasilitas baru yang disediakan. Tetapi, saya merasa cukup puas sudah bisa melihat beberapa koleksi di museum tersebut. 

No comments:

Post a Comment