Tuesday, May 31, 2011

Saya dan Patung Mbis Suku Asmat

Pada hari minggu tanggal 22 Mei 2011 saya dan beberapa orang teman sekelas saya pergi ke museum nasional untuk memenuhi tugas sejarah. Di museum tersebut banyak barrang peninggalan terdahulu yang menarik. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah patung setinggi 5-8 meter bernama patung mbis peninggalan suku asmat.
Perkembangan budaya global semakin meluas, siapa yang kuat, dialah yang akan mempengaruhi dan berkuasa atas yang lain. Banyak budaya local yang semakin tergeser dan berganti dengan budaya global tersebut. Hal ini pun terjadi diindonesia, dengan berbagaimacam budaya yang ada yang berasal dari berbagai macam suku pun tidak dapat menghindari hal tersebut.
Salah satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki kekayaan kebudayaan yang beragam tersebut adalah daerah Papua. Papua yang merupakan sepuah pulau terbesar di Indonesia terdiri dari dua Pripinsi, yaitu Irian Jaya Barat dan Papua itu sendiri. Salah satu kebudayaan unik yang sangat terkenal dan cukup mendapat perhatian di Tanah Papua adalah keberadaan kebudayaan Patung Asmat atau Patung Mbis.

 
             Suku Asmat terkenal dengan seni ukirnya, ada beberapa dari mereka yang tergolong masih primitif, dan memuja arwah leluhurnya. Bentuk pemujaan pada arwah leluhur seringkali divisualisasikan melalui seni ukir, dan seni patungnya. Orang Asmat menganggap kematian leluhurnya adalah bentuk dari kejahatan musuh yang membencinya, sehingga menggunakan guna-guna untuk kematian leluhurnya. Oleh karena itulah mereka membuat patung MBIS sebagai perwujudan penghormatan kepada arwah leluhurnya. Patung tersebut merupakan sebuah pemenuhan janji kepada arwah leluhurnya bahwa mereka telah membalas dendam kepada musuhnya dengan cara memenggal kepala musuhnya. Patung MBIS adalah salah satu patung nenek moyang yang memiliki ciri: meniru sikap berdoa belalang dan tinggi 5-8 meter. MBIS adalah nama yang diberikan suku Asmat kepada patung-patung tonggak, yang dibuat untuk memperingati anggota keluarganya yang mati dipenggal musuh. Orang Asmat menyebut dirinya "kami orang sejati, kami orang pohon artinya ahli mengukir kayu".
            Tujuan dari ukiran orang Asmat adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia sehingga kelihatan lebih detail bahwa tujuan akhir mereka ialah kelanjutan dari hidup dan kebahagiaan bersama. Dari kisah inilah saya tertarik untuk memilih budaya suku Asmat untuk perancangan kursi budaya. Dengan menggunakan ruang makan yang bernuansa natural dan tradisional sangat cocok dengan budaya Asmat yang juga masih tradisional, dan dalam keseniannya pula banyak yang menggunakan bahan- bahan alami.
Patung Mbis dijadikan sebagai salah satu sarana ritual penghantar kehadiran “nenek moyang ” mereka yang dipercaya akn melindungi anak keturunannya (Fumeripits). Saat ini budaya berbeda telah masuk, dan lambat laun nilai-nilai baru tersebut menggeser nilai tersebut dan menggantikannya dengan nilai baru, tentang perdamaian yang diidentikan dengan tidak adanya peperangan dan hal ini pun menggeser fungsi patung pahatan, dari sarana ritual menjadi sebuah pajangan.
Pendidikan yang kini lambat laun berkembang dan telah turut menjamah belantara Asmat turut mengambil bagian dalam perubahan paradikma tersebut. Hal ini merupakan pengaruh dari segi kogntif seseorang. Perubahan paradikma dan sudut pandang masyarakat, terutama pada generasi muda mulai berubah, hal-hal yang bersifat ritual kepercayaan terhadap roh nenek moyang kini tidak dapat dengan mudah diterima oleh mereka yang telah mengenyam pendidikan. Pola pikir mereka lebih cendrung logis, sehinga nilai-nilai local pun mulai ditinggalkan.
Oleh karena ini mengapa saat ini para generasi muda tidak banyak yang mengusai ketrampilan pembuatan patung Mbis ini. Perkembangan semakin terus melaju, nilai-niai budaya pun semakin berburu mencari tempat untuk mengukuhkan dirinya dan menggantikan nilai budaya lain yang lemah dalam artinya pengaruh globalnya. Oleh karena ini bagaimana mempertanhankan budaya itu adalah sampai kapan budaya tersebut masih memiliki kekuatan untuk bertahan ditengah lajunya pergesekan budaya tersebut.
Patung mbis umumnya diukir pada kayu putih. Sedangkan jenis kayu lain tidak bisa dibuat, misalnya pada kayu besi. Mengukir Patung mbis pada Kayu besi adalah hal yang tidak sesuai dengan aturan menurut adat. Jika pun ada, mengukir pada kayu besi adalah modifikasi dengan tujuan mendapatkan nilai ekonomis. Misalnya kayunya keras, kuat secara umum memiliki kualitas yang bagus, jelas seorang Seniman Asmat, Paskalis Wakat kepada Jubi di Agats beberapa waktu lalu.
 

         Patung mbis dibuat oleh beberapa rumpun yang ada di Asmat. Orang Asmat, Pada awal sebelum mengukir memiliki gambaran yaitu konsep. Konsep yang dikaitkan dengan budaya dan kebiasaan, adat serta paham mistis masyarakat setempat. Patung Bis memiliki ciri khas tersendiri. Bagian bawah, tengah dan atas memiliki arti dan makna tersendiri. Hasil cipta dan karya Pengukir Asmat melihat dan mencermin kembali komunikasi batin apa yang terjadi dalam diri dengan makhluk tak kelihatan atau roh-roh orang mati.

         Secara Mitos, roh-roh orang mati tidak hilang namun mereka hanya berubah wujud atau rupa. Roh-roh harus diberi ruang Agar selalu dekat, tidak hilang menjauh serta selalu melindungi dan menjaga keluarga, dusun dan kampung. Untuk itu, sebagai wujud nyata bahwa Patung Bis diukir dan dipandang menjadi tempat berpindahnya Roh orang mati. Para leluhur, Petuah adat, tokoh perang serta keluarga, sanak saudara yang meninggal dianggap dan diyakini hanya berpindah tempat tinggal saja.





          Patung Mbis tidak hanya sebuah ukiran bernilai seni belaka, Namun memiliki nilai religius sebagai tempat untuk roh-roh para leluhur mendiami dan memberi inspirasi bagi manusia yang masih hidup. Inspirasi dan Kepuasaan batin kepada para leluhur pun terpenuhi. Anak-cucu dan familinya dapat melihat rupa dan wajah leluhur yang dikenang. Melalui tarian, nyayian dan kebiasaan adat serta ritual-ritual, manusia Asmat mendapatkan kekuatan roh-roh dan inspirasi tentang kehidupan manusia. Memang Kekhasan ukiran manusia susun dalam Patung Bis memiliki nilai budaya dan serta memiliki nilai sosioreligius tersendiri.

          Pada umumnya ukiran kayu asmat merupakan unsur pokok untuk jati diri budaya Asmat dan alam roh. Orang asmat percaya, bahwa dunia ini pada hakekatnya terdiri atas 3 lapis. Bagian pertama adalah dunia hidup atau Asmat Ow Capimi –yaitu alam kehidupan. Bagian kedua adalah tempat persinggahan orang-orang yang sudah meninggal dan belum memasuki tempat istirahat kekal di Safar--sorga yang disebut dengan dampu owcapinmi-- Roh-roh yang tinggal di Dampu Oe Capinmi -- penyebab penyakit, penderitaan, gempa bumi dan peperangan. Orang-orang yang masih hidup harus menebus Roh-roh ini dengan membuat pesta-pesta dan ukiran serta memberinya nama agar mereka dapat masuk kedalam safar yang merupakan tujuan akhir-bagian ketiga –dari kehidupan orang Asmat. Kepercayaan ini melanggengkan diri di dalam kehidupan masyarakat hingga kontak dengan dunia luar mulai terjadi sampai sekarang.

1 comment:

  1. Makasih ya infonya. Blognya berguna banget buat garap presentasi tentang patung. Tapi ngomong ngomong patung mbis ini sekarang ada di museum mana?

    ReplyDelete