Friday, May 20, 2011

Saya dan Saksi Sejarah, Tahun 1965 dan 1998

Ketika ditugaskan untuk membuat biografi dari seorang saksi sejarah, sejujurnya saya tidak tahu siapa yang harus saya wawancarai. Lalu saya berfikir ayah saya sempat mengalami  kejadian bersejarah yaitu Gerakan 30 September oleh PKI atau Gerakan 1 Oktober 1965 dan kejadian penting pada tahun 1998 yaitu kerusuhan mahasiswa Trisakti. Berikut ini adalah biografi dari ayah saya sendiri, Norman Purnomo Herdy dan sedikit cerita dari peristiwa bersejarah yang beliau alami.
Norman Purnomo Herdy, lahir pada tanggal 13 September 1957, di Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Kecamatan Genteng letaknya di tengah-tengah, yang dikelilingi oleh kecamatan-kecamatan lain yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Beliau anak bungsu, dari 8 bersaudara yaitu lima laki-laki dan tiga perempuan dari pasangan R.A; Joefaina dan M. Koesran. Beliau menikah dengan ibu saya yang bernama Dahlina Dahlan, lalu setahun setelah itu ibu saya melahirkan anak yang sampai sekarang anak satu-satunya yang bernama Maulidina Ayunintyas.
Sedikit informasi tentang “keunikan” kampung ayahku Genteng ini, penduduknya cukup beragam dan sebagian besar pendatang. Ada yang dari  Yogyakarta, Magetan, Madiun, Madura, bahkan dari luar jawa, Padang dan Banjarmasin, disamping Banyuwangi sendiri yang dikenal orang OSING. Ibu beliau yang berarti nenekku sendiri adalah orang Jogja dan kakekku atau ayah beliau berasal dari Magetan bertemu di Banyuwangi. Uniknya, ketika beliau masih SD, sekitar tahun 1965 an, beliau sudah menikmati hiburan layaknya di kota besar, seperti: Pasar Malam, Sirkus, Pacuan Kuda, Karapan Sapi yang diadakan di Stadion-Lapangan Bola secara bergantian. Dan lebih mengherankan lagi di Pasar Malam itu ada lotere yang hadiahnya mobil sedan ”Bell Air” dan ”Impala” dari Chefrolet, padahal kampung beliau pada waktu itu tak ada listrik PLN. Sangat tidak terbayang bagaimana gelapnya jalan menuju tempat hiburan, tapi beliau sangat menyukai pengalaman-pengalaman seperti itu. Kalau tentang pendidikan, pada umumnya setelah SMP pada merantau keluar kampung, seperti kota Malang, Jogya, Bandung, bergabung dengan Kakak/tetangga yang merantau lebih dulu, kalau kata beliau pada zamannya ”mangan gak mangan kumpul”, rasa kekeluargaan sesama daerah asal-sekampung masih sangat terasa.  Alhamdulillah, pada umumnya para perantau sekolah dari Genteng dapat menyelesaikan sekolah perguruan tinggi-S1. Sebenarnya untuk tingkat SMP terbilang cukup, ada SMP Negeri, SMP Muhammadiyah, SMP Taman Siswa, SMP Katolik, SMP 17 Agustus’45. Untuk tingkatan SMA, yang ada cuma satu SMA Negeri dan satu SMEA Muhammadiyah. Barang kali yang mendorong untuk sekolah jauh keluar kota adalah kebiasaan orang tua dulu pada zaman beliau, merantau diturunkan sehingga anak-anaknya pun diajari sekolah merantau di satu sisi dan keberadaan sekolah di kota yang lebih baik. Beliau sendiri sekolah SD dan SMP di Genteng (Banyuwangi), SMA di Bandung, Perguruan Tinggi di Jakarta, dan bekerja di Badan Pusat Statistik Jakarta sampai sekarang.
Beberapa peristiwa sejarah yang beliau alami dan beliau ingat adalah peristiwa G30S/PKI, dan peristiwa Mei 1988. Pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI)-penculikan dewan jendral, beliau bercerita waktu itu beliau kelas 3 SD di Genteng, belum mengerti ada keributan, demo-demo, orang banyak berarakan berjalan beramai-ramai sambil meneriakkan Allahu Akbar...Allahu Akbar. Beliau masih ingat, peristiwa itu terjadi di Genteng pada hari Jum’at , selepas sholat Jum’at di masjid. Beliau waktu itu sedang bersama kakak yang merupakan om saya (pada saat itu kls 1 SMP) memanjat pohon mangga di pekarangan rumah karena rasa ingin tahu, beliau dan om saya melihat ada asap hitam membubung ke awan. Tidak berapa lama demonstran tersebut melewati jalan depan rumah beliau, demonstran tersebut sambil meneriakkan Allahu Akbar...Allahu Akbar dan melempari rumah yang berada di depan rumah beliau (seberang jalan) dengan batu cukup besar menghantam pintu rumah hingga pecah kacanya. Pemilik rumah tersebut sudah pergi sebelumnya dengan seluruh keluarganya, atau rumah sudah dalam kadaan kosong. Meskipun demikian, tetap saja beliau tidak mengetahui maksudnya, karena pada saat itu beliau masih kecil. Pada saat itulah beliau melihat pertama kali kendaraan yang bernama panser, yang hilir-mudik dari arah utara ke selatan, dan banyak tentara yang menempati gedung kosong dekat rumah, dalam waktu yang cukup lama. Selang sehari setelah demo-demo itu, beliau dan om saya berjalan kaki menyusuri jalan besar, ternyata banyak barang/perlengkapan rumah tangga seperti radio, sepeda, kursi yang dikeluarkan di jalan dan dibakar.  Beliau saat itu hanya seorang anak kelas 3 SD yang melihat arak-arakan panser tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi (yang sesungguhnya memberikan pengamanan kepada warga/masyarakat sekitar lokasi konflik di sebelah selatan kecamatan Genteng).
            Berikut ini perjalanan peristiwa Mei 1998 yang sempat beliau ikuti perkembangan situasi yang terjadi saat itu melalui berbagai media-elektronik dan cetak, yang menjadi tonggak sejarah baru bagi bangsa Indonesia Berawal dari krisis moneter berkepanjangan yang terjadi di Thailand, sejak tahun 1997, telah menular ke eberapa negara, diantaranya Korea Selatan dan Indonesia. Di Indonesia menunjukkan situasi yang tidak menentu dan kerusuhan pecah pada bulan Mei 1998, yang sekaligus menjadi tonggak sejarah baru bagi bangsa Indonesia. Krisis moneter yang berkepanjangan telah berkembang menjadi krisis politik di dalam negeri. Harga barang-barang kebutuhan pokok menunjukan kenaikan dan kenaikan. Situasi memanas dan menjalar pada kepercayaan masyarakat, dimana kepercayaan rakyat yang tadinya berpihak kepada pemerintah dengan mendadak berubah menjadi bentuk perlawanan yang tidak terduga. Mahasiswa dan masyarakat di seluruh wilayah negara Republik Indonesia bersatu dan bergerak menuntut pemerintahan yang dipimpin oleh Soeharto turun saat itu juga. Demonstrasi mahasiswa sudah dimulai sejak bulan Pebruari  1998. Demonstrasi mahasiswa semakin menunjukkan keberanian yang lebih berani dan marak dalam rangka mentuntut agar harga-harga barang kebutuhan pokok segera diturunkan dan agenda reformasi segera dilaksanakan. Puncak dari demonstrasi tersebut adalah terbunuhnya empat mahasiswa Universitas Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998 karena peluru petugas. Kerusuhan tidak dapat dihindari sebagai akibat dari terbunuhnya agen-agen perubahan tersebut dan pada puncaknya 13, 14 dan 15 Mei 1998 meletuslah kerusuhan masal di Jakarta yang disusul kerusuhan di daerah-daerah lain di Indonesia. Gedung wakil rakyat, DPR/MPR, gedung DPRD di daerah, menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia. Seluruh elemen mahasiswa yang berbeda paham dan aliran dapat bersatu dengan satu tujuan untuk menurunkan Soeharto.
Di Jakarta, demontrasi mahasiswa dan rakyat yang bersatu tidak terkendalikan lagi yang mengakibatkan  berbagai kejadian, seperti pengerusakan, pembakaran, penjarahan toko-toko yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Kondisi transportasi dalam kota lumpuh, banyak terjadi kemacetan, banyak karyawan yang pulang kantor dengan jalan kaki, dan bahkan ada yang tidak pulang demi keselamatan diri. Penjarahan  dan pembakaran pun terjadi pada fasilitas umum dimana-mana, pembunuhan yang disertai tindakan yang biadab seperti pemerkosaan terhadap etnis tertentu terjadi di mana-mana. Situasi mencekam begitu juga yang terjadi di seluruh Indonesia. Kemudian muncul tuntutan baru, yaitu turunkan Soeharto dan adili para kroni-kroninya yang dianggap telah bersalah kepada rakyat. Kerusuhan demi kerusuhan telah  memakan korban jiwa dan materi yang sangat besar. Beliau sangat mengingatnya, waktu itu istri beliau yang merupakan ibu saya sendiri tidak pulang ke rumah karena pada saat itu disarankan untuk seluruh pegawai wanita dikantor ibu saya (Plaza Bapindo Sudirman) yang rumahnya jauh untuk menginap di salah satu hotel yaitu hotel Ambara. Karena keluarga saya waktu itu tinggal di Jakarta Timur, untuk sampai ke rumah harus melewati banyak daerah yang tidak aman karena kekacauan terjadi dimana-mana. Beliau hanya bisa menunggu di rumah, dengan perasaan sangat cemas, sangat khawatir dengan keadaan ibu saya. Suasana sangat amat mencekam, api terlihat dimana-mana, banyak sekali korban berjatuhan, Jakarta sungguh sangat menakutkan pada saat itu ungkap beliau.
Desakan Gus Dur, Amien Rais, Megawati Soekarno Putri, Sultan Hamengkubuwono dan lainnya agar Presiden Soeharto segera turun dari jabatannya guna menghindari kerusuhan yang lebih besar, yang ditunjukkan oleh gelombang demontrasi yang semakin besar.Bertentangan dengan keputusan Ketua MPR-Harmoko, bahwa rakyat Indonesia sudah tidak menginginkan Soeharto untuk memimpin Indonesia dan mengharap Presiden Soeharto segera turun (lengser keprabon). Dan pada akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 pukul 09.00 Presiden Soeharto membacakan pidato tentang pengunduran dirinya dan secara konstitusional memberikan jabatan presiden kepada  Wakil Presiden BJ Habibie untuk melanjutkan tampuk kekuasaan di Indonesia.
Begitulah sedikit cerita tentang peristiwa bersejarah di Indonesia yang kebetulan ayah saya mengalaminya. Sungguh sangat berbeda jauh dengan keadaan zaman sekarang, saya bahkan tidak bisa membayangkannya bila kejadian itu sempat saya alami. Mungkin kejadian-kejadian mencekam seperti itu akan terbawa diingatan saya sampai kapanpun, dan hanya ada rasa takut untuk mengingatnya.

No comments:

Post a Comment