Friday, June 10, 2011

SAYA dan SAKSI SEJARAH G30SPKI

saya bersama oma (Hendrianti Sahara Nasution)

 Jakarta,24 Februari 1952 ,lahirlah anak perempuan dari pasangan Abdul Haris Nasution (almarhum) dan Johana Sunarti Nasution (alm) yang bernama Hendrianti Sahara Nasution. Hendrianti Sahara Nasution yang biasa saya panggil oma ini adalah anak yang pintar. Terbukti dengan nilai-nilai yang beliau dapatkan bagus-bagus,apalagi sejarah,beliau selalu mendapat nilai 10 pada pelajaran sejarah. Oma  memiliki seorang ayah yaitu seorang Jendral Besar. Oma jg memiliki adik bernama Ade Irma Sukyani Nasution (alm). Tetapi adik oma yang kita kenal dengan nama Ade Irma ini sudah meninggal saat berumur kurang lebih 5 tahun. Beliau meninggal karena tertembak saat peristiwa G30SPKI. Setelah saya mewawancarai oma,saya akan menceritakan hasil dari wawancara saya,mengenai apa yang dilihat oma pada saat ayah beliau ingin ditangkap pd peristiwa G30SPKI.

Oma mulai bercerita ‘’seminggu sebelum peristiwa terjadi,sekeluarga pergi berlibur ke cipanas,saat lagi mengisi bensin,saya melihat ada 1 tentara yang sedang merokok membuang puntung rokok tsb sembarangan,pada saat itu yang hanya ada dipikiran saya adalah “jika terjadi kebakaran,bagaimana cara untuk menyelamatkan ade saya?” hanya itu yang ada dipikiran saya. Mulai dari situ,saya sudah memiliki firasat-firasat tidak enak.

5 Oktober 1965,menjelang hari ABRI,saat itu suasana sudah tidak enak. saya telah berumur 13 tahun,dan menduduki sekolah kelas 2 SMP di Yayasan Perguruan Cikini. Hari itu saya mau meihat latian militer,ade irma yang saat itu sedang tidur dipangkuan ibu saya,terbangun karena mau ikut melihat juga. Karena ade irma masih terlalu kecil,saya melarangnya. Ade irma pun menangis karna tidak diperbolehkan ikut. Akhirnya ade irma menuruti nasihat saya. Setelah pulang dari melihat latiha militer,ternyata ade irma sudah tertidur kembali.
Jam 12 malam,datang intelegent kolonel magenda,beliau melaporkan situasi yang sudah idak kondusif. Ayah pun menyuruh kami sekeluarga solat. Setengah 4 pagi saya denger tembakan,suara itu seperti ac yang meledak. Saya yang tidur sekamar dengan pengasuh ade irma,tiba2 pengasuh menyuruh saya menaiki dan melompat ke jendela lalu lari. Pada saat itu perasaan saya bingung dan takut sekali. Saya tidak tau harus lari kemana. Lalu saya hanya melihat tinggal 1 tentara yang tersisa,dari sekian banyak tentara yang ada di rumah saya. Lalu saya masuk ke ruang ajudan yang bernama Lettu Czi Pierre Tendean. Saya membangunkannya dan berkata ‘’om pier,ada apa ini? Ac ayah meledak ya?’ .’’

Lalu oma memotong cerita tsb dan langsung ingin bercerita dari sisi yang dilihat oleh ibunya. Oma pun bercerit kembali ‘’ waktu itu ibu saya sudah punya perasaan bahwa ayah saya akan dibunuh. Malam itu,ade tidur ditengah-tengan antara ayah dan ibu. Subuh-subuh,ayah dan ibu terbangun karena ingin membunuh nyamuk. Lalu ibu mendengar suara pintu digedor-gedor. Ibu saya pun mengecek keluar kamar. Ternyata benar dugaannya,bahwa rumah kami sudah di kepung. Ibu msk kamar lalu berkata kepada ayah saya ‘’mereka datang’’ . ayah pun ingin menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan siapapun,tetapi ibu melarangnya. Tidak lama kemudian pintu kamar tidur mereka pun ditembak. Ibu yang sedang berada diposisi tepat dibelakang pintu tidak tertembak untungnya. Beberapa kali tembakan diluncurkan ke pintu kamar. Dan atas lindungan Allah,tidak ada satu pelurupun yang terkena salah satu dari kami. Karena bunyi tembakan tsb, Ade Irma pun terbangn dan langsung berdiri turun dari tempat tidur. Beberapa saat kemudian tante saya bersama ibu dr bpk Nasution (oma saya) masuk ke kamar lewat pintu belakang. Oma saya menyuruh ayah kabur,tetapi ayah sempat tidak mau meninggalkan kami. Oma pun bilang bahwa yang mereka cari hanya ayah,bukan yang lain. Akhirnya ayah kabur denga melompati tembok,ternyata ayah jatuh ke kedutaan Irak. Sangat beruntung sekali. Karena kecil kemungkina mereka akan mengira bpk Nasution akan melompat kesana. Di waktu yang sama,karena bingung dan panik,tante menggendong ade dan membawa ade keluar melewati pintu depan. Dengan jarak yang dekat,ade pun tertembak. Lalu ade digendong oleh oma saya. Oma saya pun dengan sangat berani keluar dan menantang para pasukan sambil menggendong ade, oma saya berkata ‘’ Kamu datang kesini hanya untuk membunuh anak saya?!’’ lalu mereka menjawab “mana nasution?” oma pun marah dan berkata “BAPAK NASUTION!!!” lalu salah satu dari mereka bertanya “dimana dia?” oma “dia tidak ada,dia sedang ke bandung dari 2 hari yang lalu” . lalu pluit tanda penyerang berakhir pun dibunyikan. Ternyata ada laporan kalau bpk Nasution sudah tertangkap,dan waktu penyerangan pun sudah terlau  lama.

Setelah dibawa ke lubang buaya,ternyata mereka salah tagkap. Ternyata mereka menangkap ajudan Lettu Czi Pierre Tendean. Mereka sangat bingung,panik,dan cemas. Karena bapak Nasution adalah orang yang sangat penting yang harus mereka tangkap.

Kemudian Ade Irma segera dibawa kerumah sakit. Nama rumah sakitnya adalah RS Gatot Subroto. Saat itu saya sedang ngumpet ketakutan. Saya pun diajak ke rumah sakit untuk melihat ade. Ade Irma sangat hebat,karena 3 peluru ada dibadannya,tetapi dia tidak pingsan sama sekali. Malahan dia masih bisa berbicara. Ade berkata “kakak kenapa menangiis?” . 6 hari ade dirawat,dia pun meninggal dunia.
Selama pergolakan taun 65-67 saya tidak diperbolehkan sekolah. Akhirnya saya dipanggilkan guru kerumah,dan bersekolah dirumah. Harusnya saya bersekolah 3 tahun,tetpai saya hanya dua tahun. Saya pun masuk SMA umur 15 tahun. ‘’

Begitulah hasil dari wawancara saya. Terakhir beliau berpesan kepada saya “Sebagai anak muda,harus bisa membuka pikiran” dan “Generasi muda sekarang harus hati-hati!!”. Karena menurut beliau,sekarang sudah mulai ada tanda-tanda akan terjadi seperti peristiwa G30SPKI. Awalnya dimulai dari tawuran-tawuran,kerusuhan dimana-mana,kompetisi olahraga yang sudah kurang sportifitasnya. Sama persis seperti dulu sebelum terjadi peristiwa G30SPKI.
 
Saya iseng-iseng bertanya,apakah sampai sekarang oma masih trauma. Ternyata beliau menjawab iya. Beliau sampai sekarang masih trauma. Jika beliau mendengar suara pemadam kebakaran,beliau bisa-bisa,lari-lari,kabur terus ngumpet. Lalu beliau juga tidak bisa melihat dan mendegar keributan-keributa,seperti tawuran,kerusuhan dll. Dan ernyata beliau juga masih memeliki sesuatu yang belum hilang-hilang sampai sekarang,yaitu ada salah satu bagian dari badannya yang masih sakit sampai sekarang akbit terkena benturan saat beliau melompat ke jendela yang terlalu tinggi dahulu.

Sangat senang saya bisa mewawancarai oma. Walaupun sangat sulit untuk bertemu oma. Karena oma cukup sibuk. Beliau masih bekerja. Dan saya pun juga sibuk,jadi waktu untuk bertemu selalu tidak ada yang cocok. Akhirnya saya bisa bertemeu beliau dan mewawancarai beliau,walaupun batas waktu pengumpulan tugas sudah lewat... beliau cukup seru untuk diwawancarai. Beliau menceritakan kejadian-kejadian tersebut dengan semangat,dan membuat saya asik sendiri mendengarnya. Tidak ada kesulitan untuk mewawancarai beliau,karena kebetulan saya mengenal beliau,dan beliau juga sudahmengenal saya.
Lalu saya diajak beliau untuk ketempat museum yang beliau meliki. Museum tersebut adalah bekas tempat tinggal keluarga Jendral Besar DR. A.H. Nasution. Tahun 2008 mereka pindah rumah dan menjadikan rumah tersebut museum. Saya diajak kesana untuk melihat lebih nyaa lagi,agar bisa membayangkan kejadian-kejadian yang terjadi. Dan disana saya bisa dijelaskan lebih lengkap lagi. Sekian wawancara saya dengan Ibu Hendrianti Sahara Nasution.

3 comments:

  1. tulisan yg bagus..
    cerita dr oma (Hendrianti Sahara Nasution) sebagai saksi hidup sangat menyentuh. semoga mereka sekeluarga Bpk (Alm) Nas , Ibu (almh) Nas, dan Almh Ade Irma berkumpul kembali di surga

    ReplyDelete
  2. 49 tahun (1965 -2014) kejadian ini telah lewat, namun sejarah tetap tergores dan terkenang. Semoga keluarga & kita semua semakin kuat dari hari ke hari.

    Salam,
    Donny M Magenda
    (cucu dari Alm Bpk Magenda)

    ReplyDelete
  3. saya angkat topi untuk tulisan ini!..
    Saya cukup terharu membaca pengalaman dari anak kandung jenderal nasution,...semoga peristiwa tragis seperti itu tidak terjadi kembali di negara kita ini...Amein!

    ReplyDelete